Potensi Ekonomi Fantastis dari Listrik Indonesia

lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk mengubah wajah energi nasional melalui proyek ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dengan target kapasitas

Agus sujarwo

Potensi Ekonomi Fantastis dari Listrik Indonesia

lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk mengubah wajah energi nasional melalui proyek ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dengan target kapasitas mencapai 100 gigawatt peak (GWp) hingga tahun 2029, Indonesia berupaya keras melepaskan diri dari jeratan ketergantungan energi fosil yang kian mahal dan tidak stabil.

Langkah strategis ini bukan sekadar upaya menjaga lingkungan, melainkan sebuah mesin penggerak ekonomi yang sangat kuat. Direktur Program Transformasi Sistem Energi dari Institut for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, menekankan bahwa peningkatan kapasitas produksi listrik nasional adalah kunci utama untuk mendorong efisiensi. Menurutnya, efisiensi yang tinggi akan berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas nasional.

Potensi Ekonomi Fantastis dari Listrik Indonesia
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Elektrifikasi perlu dilakukan karena hal tersebut meningkatkan efisiensi. Ketika efisiensi meningkat, produktivitas pun naik, sehingga nilai tambah dari setiap input energi menjadi jauh lebih besar," ujar Deon dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat.

Lebih lanjut, Deon menjelaskan bahwa esensi elektrifikasi tidak hanya soal menambah jumlah pembangkit, tetapi juga bagaimana mengalihkan konsumsi energi di berbagai sektor ke listrik. Hal ini menjadi krusial mengingat permintaan listrik nasional diprediksi akan melonjak drastis. Laporan IESR memproyeksikan permintaan listrik akan naik hampir dua kali lipat pada tahun 2035, dari angka 440 Terawatt-hour di tahun 2025 menjadi sekitar 855 Terawatt-hour.

Lonjakan permintaan ini akan didorong oleh berbagai sektor strategis, mulai dari kebutuhan pusat data (data center) yang masif, ekspor listrik, hingga elektrifikasi di sektor transportasi, industri, dan rumah tangga. Ketersediaan listrik yang melimpah menjadi syarat mutlak jika Indonesia ingin mengejar target industrialisasi yang agresif.

Dampak ekonomi dari transformasi ini pun sangat luar biasa. Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI), Imaduddin Abdullah, mengungkapkan bahwa proses elektrifikasi ini diproyeksikan mampu menyumbang sekitar US$ 160 miliar atau setara dengan Rp 2.867,68 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan (2025-2035).

"Kontribusi ini bisa mencapai 8% hingga 10% terhadap PDB nasional. Jika kita bertanya bagaimana cara mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, maka salah satu jawabannya adalah melalui percepatan elektrifikasi ini," tegas Imaduddin.

Selain mendongkrak PDB, transisi ke energi listrik juga menjadi solusi bagi kesehatan fiskal negara. Dengan beralih ke listrik, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dapat ditekan secara signifikan. Imaduddin mencatat bahwa skenario elektrifikasi ini berpotensi mengurangi kebutuhan minyak nasional hingga 22% pada tahun 2035. Hal ini tentu akan meringankan beban APBN yang selama ini sering tertekan oleh subsidi dan kompensasi energi akibat fluktuasi harga minyak global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar