lahatsatu.com – Suasana lengang mencekam kini menyelimuti Pasar Pondok Labu Jakarta Selatan. Sebuah pemandangan kontras dengan hiruk pikuk ibu kota, pasar berlantai tiga ini seolah kehilangan denyut kehidupannya. Banyak kios yang pintunya terkunci rapat dan bergembok, sementara lapak-lapak yang masih beroperasi pun hanya dihiasi kesunyian tanpa kehadiran pembeli. Hingga menjelang tengah hari, aktivitas jual-beli di sana seolah berhenti total.
Padahal, secara geografis, lokasi pasar ini terbilang sangat strategis, berada di persimpangan vital antara Jalan Margasatwa Raya dan Jalan PD Labu Raya. Arus lalu lintas di luar pasar masih padat oleh angkutan umum, truk pengangkut, hingga kendaraan pribadi. Namun, ironisnya, mayoritas kendaraan tersebut hanya melintas, enggan berbelok masuk ke area pasar. Sejak pagi hingga pukul 12.00 WIB, hanya segelintir mobil dan motor yang terlihat mampir.

Memasuki koridor pasar, deretan toko yang menjajakan berbagai produk, mulai dari perhiasan emas, pakaian, hingga produk kecantikan, menyambut pengunjung. Namun, pemandangan ini segera berubah saat menelusuri area basement lebih dalam. Di sana, rolling door yang tertutup rapat dan terkunci mendominasi, menyisakan beberapa gantungan pakaian, tas, dan perabotan yang tampak usang dan tak tersentuh tangan pembeli.
Di lantai dasar, jumlah toko yang buka memang lebih banyak, namun suasana sepi tetap tak terhindarkan. Pembeli yang berlalu-lalang sangat jarang terlihat, membuat para pedagang hanya bisa menunggu dalam diam. Kondisi serupa juga terjadi di lantai paling atas, yang seharusnya menjadi pusat lapak makanan serta kios produk segar seperti buah, sayur, dan daging. Meskipun demikian, banyak kios di sekelilingnya telah gulung tikar dan terkunci, menambah kesan mati suri. Jumlah pengunjung di lantai ini pun bisa dihitung dengan jari, menegaskan betapa sepinya Pasar Pondok Labu secara keseluruhan, meski masih ada pedagang yang gigih bertahan.
Farid, seorang pedagang produk kecantikan yang membuka kios di bagian dalam lantai dasar, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. "Kondisi pasar sudah lumayan parah. Keterpurukan ini bahkan sudah terasa sejak sebelum pandemi. Anehnya, saat pandemi, ketika kami harus kucing-kucingan membuka toko, pembeli justru masih ada," ungkap Farid. "Sekarang, setelah semuanya dibuka bebas, malah tidak ada yang datang sama sekali. Lihat saja, dari tadi tidak ada yang lewat, paling hanya pedagang lain yang melintas untuk ke belakang," tambahnya dengan nada pasrah.




