Pasar Keuangan Indonesia Sedang Tidak Baik Baik Saja

lahatsatu.com – Kondisi pasar keuangan domestik tengah berada dalam fase yang cukup menantang. Sepanjang bulan September, indikator ekonomi utama Indonesia, yakni Indeks Harga Saham Gabungan

Agus sujarwo

Pasar Keuangan Indonesia Sedang Tidak Baik Baik Saja

lahatsatu.com – Kondisi pasar keuangan domestik tengah berada dalam fase yang cukup menantang. Sepanjang bulan September, indikator ekonomi utama Indonesia, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah, menunjukkan tren pelemahan yang signifikan. Tekanan ini tidak hanya datang dari faktor internal, tetapi juga dipicu oleh gejolak ekonomi global yang semakin tidak menentu.

Di sektor pasar modal, IHSG mengalami koreksi yang cukup dalam. Berdasarkan data terbaru, indeks tersebut ditutup pada level 6.071,14 di akhir September, yang berarti mengalami penurunan sebesar 6,96% dibandingkan bulan sebelumnya. Fenomena ini diperparah dengan adanya aksi jual besar-besaran oleh investor asing.

Pasar Keuangan Indonesia Sedang Tidak Baik Baik Saja
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 10,24 triliun di pasar saham. Angka ini menunjukkan perubahan drastis jika dibandingkan dengan bulan Agustus yang justru mencatatkan aliran modal masuk (net buy) sebesar Rp 1,19 triliun. Volatilitas pasar global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik serta kebijakan suku bunga tinggi di berbagai negara menjadi faktor utama di balik arus keluar modal ini.

Meski demikian, OJK memberikan catatan optimis bahwa likuiditas pasar modal domestik sebenarnya masih dalam kondisi terjaga. Hal ini terlihat dari rata-rata bid-ask spread pasar saham yang berada di level 1,2%, sebuah angka yang relatif stabil.

Tekanan serupa juga merembet ke pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) mengalami penurunan tipis sebesar 0,23% secara bulanan dan ditutup pada level 439,05. Meskipun ada tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi global, arus keluar dana asing dari Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih dalam batas yang terkendali, yakni sebesar Rp 340 miliar.

Kondisi yang tidak kalah mengkhawatirkan terlihat pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura. Dolar AS bahkan telah menembus level Rp 17.900 per dolar, sementara dolar Singapura terus merangkak naik hingga mendekati angka psikologis Rp 14.000.

Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa depresiasi rupiah yang mencapai 7,74% secara year to date (ytd) ini merupakan dampak dari penguatan indeks dolar (DXY) yang melampaui level 101. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebutkan bahwa kebijakan suku bunga AS dan ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik geopolitik menjadi pemicu utama. Ketika dolar AS menguat secara global, mata uang negara berkembang lainnya, termasuk rupiah, cenderung mengalami tekanan pelemahan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar