lahatsatu.com – Fenomena menarik sekaligus menyedihkan tengah terjadi di meja makan masyarakat Indonesia. Jika biasanya satu potong tempe atau tahu memiliki ukuran yang mantap, kini konsumen mulai menyadari adanya perubahan fisik yang signifikan. Ukuran tahu dan tempe yang beredar di pasar tradisional maupun swalayan tampak semakin menciut. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan dampak langsung dari badai kenaikan harga bahan baku yang menghimpit para perajin.
Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama menjadi pemicu utama krisis ini. Berdasarkan data yang dihimpun, harga kedelai yang sebelumnya berada di angka Rp 9.500 per kilogram kini telah melonjak tajam ke kisaran Rp 11.600 hingga mencapai Rp 12.000 per kilogram di sejumlah wilayah. Kondisi ini memaksa para produsen untuk mengambil langkah ekstrem demi menjaga kelangsungan usaha mereka.

Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Kusnoto, mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi yang dihadapi perajin saat ini jauh lebih berat dibandingkan tahun 2022 silam. Menurutnya, beban yang dipikul perajin tidak hanya berasal dari mahalnya kedelai, melainkan efek domino dari berbagai kenaikan biaya operasional lainnya.
"Kondisinya sekarang bukan cuma soal kedelai. Harga plastik kemasan naik, minyak goreng ikut merangkak naik, ditambah lagi dengan fluktuasi daya beli masyarakat yang sedang tidak menentu," ujar Kusnoto menjelaskan situasi sulit tersebut.
Strategi "mengecilkan ukuran" menjadi jalan pintas yang diambil perajin karena mereka tidak berani menaikkan harga jual secara drastis. Kenaikan harga jual dikhawatirkan akan membuat konsumen berpaling, mengingat tahu dan tempe adalah komoditas pangan rakyat yang sangat sensitif terhadap perubahan harga. Sebagai contoh, satu batang tempe yang biasanya dipotong menjadi enam bagian, kini dipaksa menjadi tujuh bagian agar tetap bisa dijual dengan harga yang sama.
Secara matematis, margin keuntungan perajin kini berada di titik yang sangat tipis. Jika seorang perajin menggunakan satu kuintal kedelai untuk menghasilkan 22 batang tempe, pendapatan kotor memang terlihat ada, namun setelah dipotong biaya bahan baku, plastik, BBM, hingga ongkos logistik yang melonjak hingga indeks 145, sisa keuntungan yang didapat nyaris tidak ada.
Selain kedelai, faktor kurs dolar AS yang diperkirakan menyentuh angka Rp 18.000 per dolar juga menjadi beban berat karena sebagian besar kedelai masih bergantung pada impor. Harga plastik kemasan pun melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2022.
Di tengah himpitan ini, para perajin menaruh harapan besar kepada pemerintah melalui program stabilisasi harga atau subsidi kedelai. Meski terdapat informasi mengenai skema subsidi sebesar Rp 500 miliar untuk 250 ribu ton kedelai, para perajin mengaku belum merasakan dampak nyata di lapangan. Mereka berharap pemerintah segera melakukan intervensi agar harga kedelai tetap terjangkau sebelum lebih banyak perajin kecil yang terpaksa gulung tikar.




