lahatsatu.com – Upaya pemulihan pascabencana banjir besar di wilayah Aceh Tamiang menunjukkan hasil yang luar biasa. Pertamina EP Rantau Field berhasil membuktikan ketangguhan operasionalnya dengan melakukan pengeboran lima sumur baru di tengah proses pemulihan infrastruktur yang sempat lumpuh akibat bencana alam.
Langkah strategis ini diambil bukan sekadar untuk kembali ke titik semula, melainkan untuk mencari potensi cadangan migas baru guna memperkuat ketahanan energi nasional. Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengungkapkan bahwa meskipun situasi pascabanjir masih dalam tahap penyesuaian, perusahaan tetap bergerak maju melakukan program well spud atau tajak sumur baru.

"Tajak sumur baru ini sangat krusial bagi penyediaan energi nasional. Kami melakukan pengeboran untuk menemukan cadangan migas baru sekaligus menjaga agar stabilitas produksi tetap terjaga," ujar Tomi dalam keterangan resminya.
Secara teknis, pengeboran ini tersebar di beberapa titik strategis. Di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, perusahaan mengoperasikan Rig APS-752 untuk mengebor sumur RNT DZ-51 dengan kedalaman 1145 MMD dan RNT DZ-52 dengan kedalaman 1037 MMD. Sementara itu, di Kampung Paya Meta, pengeboran sumur RNT DZ-11 menggunakan Rig TMMJ-12 sedang berlangsung, berdampingan dengan dua sumur lainnya, yakni RNT DZ-23A dan RNT DZ-33.
Keberhasilan ini tidak datang dengan mudah. Sebelumnya, banjir besar pada akhir November 2025 sempat melumpuhkan total aktivitas produksi. Dengan ketinggian air mencapai 4,5 meter dan endapan lumpur yang tebal, fasilitas produksi hingga pemukiman pekerja terdampak parah. Produksi sempat menyentuh angka nol barel akibat matinya aliran listrik dan terendamnya instalasi pengolahan air.
Namun, melalui inovasi yang cerdas, tim di lapangan berhasil mengatasi kendala pasokan gas. Alih-alih menunggu perbaikan stasiun kompresor gas (HPCS) yang rusak berat, mereka melakukan modifikasi pada SP-5 agar mampu mengambil alih fungsi penyediaan gas untuk pembangkit listrik. Hasilnya, produksi minyak yang sempat berhenti kini telah stabil di angka 1.700 barel per hari.
Menariknya, kecepatan pemulihan ini melampaui ekspektasi banyak pihak. Jika banyak yang memperkirakan butuh waktu hingga tiga tahun, Pertamina hanya membutuhkan waktu empat bulan untuk kembali ke performa awal. Keberhasilan ini juga sempat membawa produksi melonjak hingga 2.000 barel per hari pada periode Mei dan Agustus 2026.
Atas dedikasi dan kecepatan respons tersebut, SKK Migas memberikan penghargaan khusus kepada Pertamina EP Rantau Field pada April 2026. Pencapaian ini menjadi bukti nyata sinergi antarwilayah operasi Pertamina dan komitmen tinggi terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam menjaga keberlanjutan energi di Indonesia.




