Jakarta, Lahatsatu.com – Serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran beberapa waktu lalu menyisakan tanda tanya besar. Selain kerusakan yang ditimbulkan, keberadaan 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60% menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Serangan yang menyasar fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan itu langsung memicu reaksi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Kepala IAEA, Rafael Grossi, mendesak agar inspektur IAEA segera diberikan akses untuk meninjau lokasi dan memeriksa cadangan bahan baku nuklir Iran.

Kekhawatiran utama adalah keberadaan 400 kg uranium yang telah diperkaya Iran hingga 60%. Padahal, kesepakatan nuklir tahun 2015 membatasi pengayaan uranium Iran di bawah 4%. Laporan dari New York Times, mengutip sumber dari pejabat Israel, menyebutkan bahwa pemerintah Iran telah memindahkan uranium tersebut sebelum serangan AS terjadi.
"Kini terlihat kawah di situs Fordow, lokasi utama Iran untuk pengayaan uranium hingga 60%, yang menunjukkan penggunaan senjata penghancur bawah tanah. Ini sesuai dengan pernyataan dari pihak AS," terang Grossi.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang dapat memastikan sejauh mana kerusakan di bawah tanah di Fordow, termasuk IAEA. Grossi menambahkan, daya ledak tinggi dalam serangan AS kemungkinan besar menyebabkan kerusakan besar pada mesin sentrifugal sensitif yang digunakan untuk memperkaya uranium.
Para ahli keselamatan IAEA telah berulang kali memperingatkan risiko serangan terhadap infrastruktur nuklir. Kerusakan pada sistem pengaman dapat menyebabkan pelepasan zat radioaktif atau bahan beracun dalam jumlah berbahaya.
"Serangan bersenjata terhadap fasilitas nuklir tidak boleh dilakukan, karena bisa menimbulkan pelepasan radioaktif dengan konsekuensi serius, baik bagi negara yang diserang maupun negara-negara sekitarnya," tegas Grossi. Keberadaan 400 kg uranium tersebut masih menjadi teka-teki dan menjadi perhatian serius komunitas internasional.




