lahatsatu.com – Ketergantungan masyarakat di wilayah kepulauan terhadap bahan bakar minyak tanah bersubsidi tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan menurun. Di tengah gempuran berbagai jenis bahan bakar alternatif, minyak tanah dengan harga terjangkau tetap menjadi primadona dan andalan utama bagi kebutuhan energi rumah tangga di Provinsi Maluku.
Salah satu titik yang menunjukkan fenomena ini adalah di Pangkalan Desa Tulehu, Maluku Tengah. Di lokasi tersebut, antrean warga terlihat masih rutin dilakukan demi mendapatkan pasokan bahan bakar untuk keperluan memasak dan kebutuhan domestik lainnya. Kehadiran pangkalan ini menjadi sangat krusial bagi stabilitas ekonomi rumah tangga di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, minyak tanah bersubsidi tersebut dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp4.000 per liter. Harga ini jauh di bawah harga pasar non-subsidi, sehingga menjadi penyelamat bagi masyarakat menengah ke bawah untuk tetap bisa menjalankan aktivitas dapur sehari-hari tanpa harus terbebani biaya energi yang tinggi.
Pemerintah melalui jalur distribusi resmi terus berupaya menjaga agar ketersediaan stok tetap aman. Saat ini, penyaluran minyak tanah bersubsidi dilakukan melalui jaringan agen yang cukup luas, yakni sebanyak 50 agen yang tersebar di berbagai titik di seluruh Provinsi Maluku. Keberadaan agen-agen ini menjadi ujung tombak dalam memastikan distribusi energi sampai ke tangan masyarakat secara merata.
Meskipun tren penggunaan gas LPG terus didorong oleh pemerintah, realitas di lapangan menunjukkan bahwa karakteristik geografis dan kebiasaan masyarakat di Maluku membuat minyak tanah tetap memiliki peran vital. Bagi banyak keluarga, minyak tanah bukan sekadar bahan bakar, melainkan komponen penting dalam ketahanan energi rumah tangga yang sulit digantikan sepenuhnya dalam waktu singkat.
Kelancaran distribusi menjadi kunci utama yang terus disorot oleh warga. Masyarakat sangat berharap agar rantai pasokan dari pusat ke pangkalan-pangkalan desa di pelosok Maluku tetap berjalan mulus tanpa kendala logistik. Sebab, keterlambatan distribusi sedikit saja dapat berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan kebutuhan pokok warga di tingkat akar rumput.
Dengan harga Rp4.000 per liter, minyak tanah bersubsidi ini terbukti menjadi instrumen penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah diharapkan terus memantau ketersediaan stok di 50 agen tersebut agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu kenaikan harga di pasar gelap. Keberlangsungan program subsidi ini menjadi harapan besar bagi warga Maluku untuk tetap bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan biaya energi yang terjangkau.




