lahatsatu.com – Sebuah studi terbaru mengungkap potensi pasar raksasa yang selama ini luput dari perhatian banyak merek. Generasi Milenial hingga Baby Boomer, yang kini memasuki usia matang, ternyata bukan sekadar kelompok konsumen pasif. Mereka adalah "Prime Generation" yang aktif, penuh aspirasi, dan sangat melek teknologi, siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Temuan mengejutkan ini dilansir oleh Hakuhodo dalam ajang ASEAN Sei-Katsu-Sha Forum 2026. Hakuhodo mengidentifikasi kelompok usia di atas 40 tahun sebagai Prime Generation, meliputi Milenial, Gen X, hingga Baby Boomer. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok usia ini mencakup 38,2% dari total populasi Indonesia, sebuah angka yang menegaskan besarnya kekuatan belanja mereka.

Devi Attamimi, Group CEO Hakuhodo International Indonesia, menegaskan bahwa segmen konsumen berusia di atas 40 tahun kini muncul sebagai peluang pasar yang sangat menjanjikan. "Segmen ini tidak lagi bisa dipandang hanya dari faktor usia, melainkan dari kejelasan hidup yang semakin kuat, kepercayaan diri, serta pengaruh signifikan yang mereka miliki," ujar Devi dalam forum tersebut.
Rian Prabana, Senior Director of Strategy & Head of Sei-katsu-sha Lab Hakuhodo, menambahkan bahwa kelompok usia matang ini justru berada di puncak kehidupannya, jauh dari fase penurunan. "Mereka kerap dipandang hanya melalui kacamata usia, padahal mereka masih punya pengaruh dan sangat berdaya," tutur Rian, menyoroti kekeliruan persepsi yang umum.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah pergeseran prioritas. Kelompok ini tidak lagi semata-mata berorientasi pada peran keluarga, melainkan mulai mengejar pengalaman dan hal-hal yang sebelumnya tertunda. Survei menunjukkan 47,1% responden berusia di atas 40 tahun masih ingin merasakan lebih banyak hal dalam hidup, sementara 73% bertekad untuk tetap aktif secara fisik dan mental.
Sanu Pratomo, Strategic Planning Manager Hakuhodo, mengamati bahwa mereka yang mendekati usia 50 tahun justru semakin memaksimalkan hidup. "Banyak dari mereka justru ingin memfokuskan pengeluarannya untuk diri sendiri," jelas Sanu, menyoroti bahwa dibandingkan satu dekade lalu, mereka kini merasa memiliki lebih banyak waktu dan dana yang tidak selalu dihabiskan untuk keluarga.
Pola konsumsi pun mencerminkan tren ini. Sebanyak 51,1% responden di atas 40 tahun menggunakan uang untuk diri sendiri sebagai bentuk self-reward. Keterlibatan digital mereka juga tinggi, dengan 57% memanfaatkan platform belanja online dan 73,3% pernah melakukan pembelian melalui live commerce.
Keinginan untuk terus berkembang juga tak luntur. Sebanyak 62,4% responden Indonesia berusia 40-69 tahun menyatakan minat untuk mempelajari keterampilan baru. Bahkan, 43,5% responden di atas 40 tahun aktif menggunakan media sosial untuk menambah pengetahuan. Stephanie Anastasia, Strategic Planning Manager Hakuhodo, menyebut temuan ini membuktikan bahwa semangat belajar tidak hanya milik generasi muda. Mereka juga aktif menjelajahi teknologi, dari berbagai aplikasi hingga kecerdasan buatan (AI), serta memanfaatkan media sosial untuk informasi dan tren.
Agresti Reno, Strategic Planner Hakuhodo, menekankan bahwa temuan ini menuntut perubahan cara pandang merek terhadap kelompok usia matang. Mereka tidak lagi cukup dilihat berdasarkan usia atau peran keluarga, melainkan dari aspirasi personal. "Mereka mau memenuhi hal-hal yang dulu belum mereka berikan untuk dirinya sendiri," ujar Agresti. Dengan aspirasi yang kuat, kemampuan finansial, dan keterlibatan digital, Milenial hingga Baby Boomer merupakan sumber pertumbuhan baru yang prospektif bagi merek yang jeli.




