lahatsatu.com – Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen di tengah gelombang kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memicu berbagai pertanyaan di kalangan pelaku pasar. Langkah berani ini diambil bukan tanpa alasan yang matang. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan penjelasan mendalam mengenai pertimbangan strategis di balik kebijakan tersebut.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Destry mengungkapkan bahwa keputusan ini merupakan hasil dari proses asesmen yang sangat ketat. Bank Indonesia telah melakukan berbagai simulasi untuk melihat sejauh mana dampak kenaikan suku bunga terhadap stabilitas ekonomi nasional. Salah satu parameter utama yang menjadi dasar pertimbangan adalah kondisi inflasi di Indonesia.

Menurut Destry, inflasi merupakan jangkar atau anchor utama dalam pengambilan kebijakan moneter. Saat ini, BI menilai kondisi inflasi dalam negeri masih berada dalam zona yang aman dan terkendali. "Kami merasa masih nyaman dengan kondisi inflasi saat ini. Terutama jika melihat inflasi inti (core inflation) yang masih berada di kisaran 2 persen, sementara inflasi umum (headline inflation) tercatat di angka 3,19 persen," jelas Destry.
Lebih lanjut, BI juga mempertimbangkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan hasil simulasi internal, jika Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, hal tersebut berpotensi memberikan tekanan pada pertumbuhan ekonomi. Prediksi menunjukkan bahwa kenaikan tersebut dapat menggerus laju pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen. Angka ini dianggap cukup signifikan untuk dapat menghambat momentum pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.
Alih-alih menggunakan instrumen suku bunga yang bersifat umum dan berdampak luas ke seluruh sektor, BI memilih strategi yang lebih presisi atau targeted. Destry menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan akan memberikan dampak langsung ke semua lini ekonomi, yang bisa menjadi pedang bermata dua. Sebagai gantinya, BI menggunakan instrumen kebijakan lain yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik arus modal asing masuk ke Indonesia.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui pemberian insentif biaya hedging (lindung nilai) bagi para investor. Strategi ini dirancang agar para investor mendapatkan margin biaya yang lebih murah, sehingga mereka tetap tertarik untuk menanamkan modalnya di pasar keuangan Indonesia tanpa harus membebani sektor riil secara berlebihan.
"Kami harus selalu mengombinasikan berbagai kebijakan. Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi perhatian utama kami, mengingat mandat BI yang kini semakin bertambah," pungkas Destry. Dengan pendekatan yang lebih spesifik ini, BI berharap dapat menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap tangguh di tengah ketidakpastian global.




