Jakarta – Industri telekomunikasi Indonesia bergemuruh dengan bergabungnya XL Axiata dan Smartfren, membentuk entitas baru bernama XLSmart dengan nilai fantastis Rp 104 triliun (US$ 6,5 miliar). XL Axiata akan menjadi induk perusahaan, menyerap Smartfren dan SmarTel ke dalam payungnya. Langkah ini, menurut Group Chief Executive Officer Axiata Group, Vivek Sood, akan memperkuat konektivitas di Indonesia dan ASEAN, sekaligus mengatasi kesenjangan digital.
Keunggulan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi pertimbangan utama. Vivek optimistis, XLSmart mampu meningkatkan cakupan dan kualitas layanan, menawarkan beragam pilihan produk, serta memperbaiki kualitas jaringan secara signifikan. "Axiata memiliki rekam jejak sukses dalam merger dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Kami antusias membawa keahlian ini ke XLSmart," tegas Vivek dalam rilis pers, Rabu (11/7).

Gabungan XL Axiata (58,6 juta pelanggan) dan Smartfren (35,9 juta pelanggan) menghasilkan basis pelanggan raksasa mencapai 94,5 juta. Keunggulan lain terletak pada kepemilikan spektrum frekuensi yang signifikan. Laporan internal menyebutkan, XLSmart memiliki skala spektrum yang kompetitif, memungkinkan peningkatan kapasitas jaringan dan layanan internet yang lebih baik. Efisiensi pun dibidik dengan rencana pengoptimalan jaringan, menonaktifkan 20% – 30% infrastruktur yang tumpang tindih.
Mengacu pada merger XL dan Axiata (2014) serta Indosat dan Hutchison 3 Indonesia (2022), XLSmart optimistis akan meningkatkan ARPU (Average Revenue Per User) atau pendapatan rata-rata per pengguna.
Para pakar pun turut berkomentar. Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, Ian Yosef M Edward, memperkirakan merger ini akan berdampak positif pada harga dan kecepatan internet. "Seharusnya merger menciptakan efisiensi, berujung pada harga internet yang lebih murah dan kecepatan yang lebih tinggi," ujarnya pada Mei lalu.
Senada dengan itu, peneliti telekomunikasi ITB, Agung Harsoyo, menilai merger akan meningkatkan efisiensi industri. Penggabungan sumber daya dan infrastruktur akan meningkatkan kualitas layanan. "Sumber daya pita frekuensi 4G dapat diagregasikan, sehingga kecepatan internet pelanggan meningkat," ungkap Agung pada April lalu.
Namun, Agung juga mengingatkan bahwa dampak terhadap harga layanan internet mungkin tidak signifikan. Ia menjelaskan, beberapa faktor lain turut mempengaruhi harga, dan belum tentu turun seiring merger. "Merger, jika berpengaruh pada harga, tidak akan banyak. Biaya lain mungkin tetap atau bahkan naik," tambahnya.




