Jakarta – Penipuan finansial berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia mengalami peningkatan drastis. PT Indonesia Digital Identity (VIDA) melaporkan lonjakan mencapai 1.550% sejak 2022 hingga saat ini. "Jika dibiarkan, kerugian finansial dan reputasi akan semakin besar," tegas Victor Indajang, Chief Operating Officer VIDA, dalam siaran pers Senin (23/12).
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total kerugian akibat kejahatan finansial, khususnya penipuan dan kecurangan, mencapai Rp2,5 triliun sejak 2022 hingga kuartal I 2024. Kerugian ini tak hanya merugikan institusi keuangan, tetapi juga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital.

Modus penipuan berbasis AI terus berevolusi. Beberapa modus utama yang perlu diwaspadai antara lain:
-
Deepfake dan Penipuan Identitas: Teknologi deepfake dimanfaatkan untuk menciptakan video atau gambar palsu yang meyakinkan, digunakan untuk memuluskan transaksi ilegal.
-
Pengambilalihan Akun (Account Takeover/ATO): Pencurian data pribadi melalui phishing atau metode lain memungkinkan pelaku mengakses akun korban dan melakukan transaksi ilegal. Phishing menjadi ancaman utama, khususnya pada sektor pinjaman daring (pindag), dengan 41% kasus penipuan terkait pembayaran pindag mengeksploitasi kelemahan otentikasi pengguna. Pengiriman file APK berbahaya via WhatsApp atau email menjadi salah satu metode yang digunakan.
-
Penipuan Identitas Sintetis: Pelaku menciptakan identitas palsu menggunakan data curian atau teknologi deepfake untuk mengakses produk keuangan. Kerugian global akibat modus ini diperkirakan mencapai US$2 miliar per tahun (sekitar Rp 32,3 triliun).
-
Pemalsuan Dokumen dalam Klaim Asuransi: Pemalsuan dokumen dan tanda tangan menjadi modus utama penipuan klaim asuransi, yang berdampak pada kerugian finansial bagi perusahaan asuransi dan konsumen. Kebocoran data pribadi memperparah ancaman ini.
Menanggapi ancaman tersebut, VIDA menawarkan solusi bernama VIDA Identity Stack (VIS). VIS merupakan sistem terintegrasi yang menggabungkan teknologi verifikasi identitas biometrik, otentikasi multifaktor, dan deteksi penipuan berbasis AI untuk mencegah penipuan sebelum terjadi.




