lahatsatu.com – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi akhirnya buka suara terkait wacana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mendatangkan kereta rel listrik (KRL) eks Jepang. Hingga saat ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum menerima pengajuan resmi dari KAI mengenai rencana impor KRL bekas tersebut.
"KAI belum memasukkan proposalnya kepada saya," tegas Dudy saat dimintai keterangan mengenai persetujuan Kemenhub atas rencana impor KRL bukan baru oleh KAI, Kamis (24/9/2026). Menanggapi arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan pemerintah, Dudy menyatakan Kemenhub akan sepenuhnya mematuhi instruksi tersebut. "Tentu saja, apa yang menjadi harapan Bapak Presiden harus kami laksanakan," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin telah mengemukakan gagasan untuk kembali mengimpor rangkaian KRL bukan baru dari Jepang. Langkah ini diusulkan sebagai solusi transisi guna mengatasi lonjakan kebutuhan armada KRL Jabodetabek. Di sisi lain, KAI juga tetap didorong untuk memperkuat kapasitas industri perkeretaapian nasional.
Bobby Rasyidin menjelaskan, KAI memerlukan tambahan 23 trainset KRL bukan baru untuk melayani jumlah penumpang yang terus bertambah. Rinciannya meliputi tujuh trainset dengan formasi 12 kereta (SF12) dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta (SF8). "Jumlah yang kami ajukan untuk solusi sementara ini, yaitu kereta yang tidak baru, adalah 7 trainset SF12, ditambah 16 trainset SF8," papar Bobby.
Perbedaan formasi ini disesuaikan dengan kondisi infrastruktur pada lintas jalur yang berbeda. Bobby mencontohkan, beberapa stasiun di jalur lingkar seperti dari Tanjung Priok menuju Kota memiliki panjang peron yang terbatas. "Jika kita menggunakan SF12, tidak akan optimal. Oleh karena itu, kami mengusulkan 7 SF12 dan 16 SF8," jelasnya.
Desakan untuk penambahan armada ini muncul seiring dengan peningkatan signifikan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester pertama tahun 2026 mengalami pertumbuhan 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata harian pengguna KRL mencapai sekitar 1,1 juta orang, bahkan bisa melonjak hingga 1,3 juta penumpang. Selain itu, KAI juga menghadapi tantangan untuk mengganti sejumlah trainset lama yang usianya telah melampaui 40 tahun.
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) sebelumnya, Komisi VI DPR RI telah memberikan sinyal positif kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengimpor rangkaian KRL bukan baru. Persetujuan ini diberikan demi memenuhi kapasitas angkutan KRL Jabodetabek yang terus meningkat, namun tetap dengan catatan untuk mengoptimalkan industri lokal. Kesimpulan rapat tersebut dibacakan oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade pada RDP dengan KAI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (23/9/2026). "Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal, dan melakukan impor rangkaian kereta (trainset) bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan," kata Andre.




