lahatsatu.com – Gejolak geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Lebanon, kembali mengguncang pasar aset kripto global. Bitcoin, mata uang digital terkemuka, merasakan dampak langsung dari ketegangan ini, memicu kekhawatiran di kalangan investor dan menyebabkan penurunan signifikan pada nilai aset digital lainnya.
Pada perdagangan Jumat lalu, harga Bitcoin sempat anjlok hampir 5% dalam sehari, menyentuh level sekitar US$ 62.601 atau setara Rp 1,11 miliar (dengan asumsi kurs Rp 17.826). Meskipun sempat menunjukkan pemulihan tipis hingga US$ 63.628, kenaikan sekitar 1,65% dalam 24 jam terakhir belum sepenuhnya menghapus bayang-bayang kerugian yang terjadi.

Data dari CoinGlass menunjukkan betapa parahnya situasi ini, dengan total likuidasi di pasar kripto mencapai angka fantastis sekitar US$ 579,43 juta. Posisi long mendominasi kerugian ini, mencatat likuidasi sebesar US$ 496,62 juta, jauh melampaui posisi short yang berada di angka US$ 82,81 juta.
Tokocrypto melaporkan bahwa lebih dari 139.000 trader merasakan dampaknya secara langsung. Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar, mencapai sekitar US$ 191,49 juta, disusul oleh Ethereum dengan likuidasi sekitar US$ 135,46 juta. Aset kripto lain seperti HYPE, XRP, SOL, dan ADA juga tidak luput dari tekanan jual yang masif. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor yang cenderung menarik diri dari aset berisiko saat tensi geopolitik meningkat.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa tekanan jual ini bukan hanya dipicu oleh sentimen makro ekonomi, melainkan juga diperparah oleh akumulasi posisi leverage yang terlalu padat di pasar derivatif. "Ketika konflik geopolitik memuncak, investor secara alami mengurangi eksposur mereka pada aset berisiko, termasuk kripto. Dalam skenario ini, posisi leverage yang menumpuk dapat mempercepat penurunan harga karena likuidasi berantai memicu tekanan jual tambahan," ungkap Fyqieh.
Level psikologis US$ 60.000 kini menjadi batas krusial bagi Bitcoin. Jika level ini berhasil dipertahankan, peluang konsolidasi masih terbuka. Namun, jika tekanan jual terus berlanjut dan Bitcoin gagal bertahan di atas ambang batas tersebut, pasar berisiko memasuki fase koreksi yang lebih dalam, seiring dengan meningkatnya volatilitas akibat ketegangan di Timur Tengah.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini berada di zona kritis antara US$ 64.000 hingga US$ 66.000. Jika mampu menembus area ini, potensi pemulihan menuju resistensi US$ 74.000 hingga US$ 76.000 dapat terwujud. Sebaliknya, penolakan di area tersebut berpotensi membuat Bitcoin bergerak terbatas di kisaran US$ 60.000 hingga US$ 65.000. Meski demikian, beberapa indikator menunjukkan upaya pembentukan dasar harga di sekitar US$ 60.000.
Meskipun likuiditas beli di order book spot mulai menunjukkan peningkatan, menandakan kesiapan sebagian pelaku pasar untuk menyerap tekanan jual di level bawah, Fyqieh menegaskan pentingnya disiplin dalam mengelola risiko. "Volatilitas dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih tinggi. Investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga terlihat murah. Manajemen risiko, penggunaan *leverage




