Jakarta – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan beberapa faktor kunci yang menyebabkan harga tiket pesawat domestik, khususnya rute Jakarta-Aceh dan Jakarta-Medan, melambung tinggi. Lonjakan harga ini, menurutnya, bukan hanya disebabkan oleh tingginya permintaan menjelang hari besar atau liburan.
Dudy menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama adalah berkurangnya jumlah armada pesawat yang beroperasi di rute domestik. "Sebelum pandemi COVID-19, kita memiliki sekitar 700 pesawat. Sekarang, jumlahnya hanya setengahnya," ujarnya di Jakarta, Jumat (6/3/2026). Keterbatasan ini menciptakan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, yang secara alami mendorong harga naik.

Selain itu, Dudy juga menyoroti peran agen perjalanan online (OTA) dalam memicu kenaikan harga. Ia menuding bahwa beberapa OTA sengaja mengarahkan penerbangan domestik untuk transit terlebih dahulu di luar negeri, seperti Singapura atau Kuala Lumpur. Praktik ini, menurutnya, membuat harga tiket domestik menjadi tidak kompetitif.
"Harga tiket melalui OTA dengan transit di luar negeri memang terlihat lebih murah karena perbedaan perlakuan terhadap penjualan tiket internasional. Namun, hal ini membuat harga tiket domestik menjadi tidak sebanding dan merugikan konsumen," jelas Dudy.
Faktor lain yang turut berkontribusi terhadap mahalnya tiket pesawat adalah harga avtur yang tinggi. Bahan bakar pesawat ini menyumbang sekitar 27,6% dari total komponen harga tiket. Pemerintah, kata Dudy, telah berupaya memberikan stimulus diskon transportasi untuk meringankan beban masyarakat. Namun, solusi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi masalah mendasar ini.




