Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan kemungkinan aksi militer terhadap Iran, dengan menyatakan keputusan akan diambil dalam sepuluh hari mendatang. Pernyataan ini memicu kekhawatiran global dan berdampak pada harga minyak dunia.
"Kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan," ujar Trump seperti dikutip Lahatsatu dari CNBC, Jumat (20/02/2026). Trump menekankan perlunya kesepakatan yang berarti dengan Iran, atau konsekuensi buruk mungkin terjadi.

Pernyataan Trump ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran terkait program nuklir negara tersebut. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, baru-baru ini mengadakan pembicaraan dengan perwakilan Iran di Jenewa. Namun, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa Iran tidak menanggapi batasan-batasan yang ditetapkan AS selama perundingan.
Situasi diperparah dengan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini berada di wilayah tersebut, dan kapal induk kedua, USS Gerald Ford, sedang dalam perjalanan menuju kawasan itu.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan di Jenewa, tetapi juga menyoroti perbedaan pendapat yang masih ada antara kedua negara.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengadakan latihan militer di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global. Para pelaku pasar minyak khawatir bahwa konflik antara AS dan Iran dapat mengganggu pasokan minyak mentah melalui selat tersebut.
Kekhawatiran ini tercermin dalam kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah AS naik US$ 1,24 atau 1,9% menjadi US$ 66,43 per barel, sementara harga minyak mentah Brent naik US$ 1,31 atau 1,86% menjadi US$ 71,66 per barel. Dunia kini menunggu keputusan Trump dalam sepuluh hari mendatang, yang berpotensi mengubah lanskap geopolitik global.




