Jakarta – Usai perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, sejumlah jasa laundry di Jakarta mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya asisten rumah tangga (ART) yang mudik, meninggalkan warga ibu kota dengan tumpukan pakaian kotor.
Pantauan Lahatsatu di lapangan menunjukkan antrean pelanggan di beberapa gerai laundry, seperti yang terlihat di Evi Laundry, Jakarta, Selasa (24/3/2026). Warga tampak membawa kantong-kantong berisi pakaian kotor untuk dicuci.

"Biasanya saya cuci sendiri, tapi karena Mbak (ART) lagi pulang kampung, terpaksa laundry," ujar seorang pelanggan yang enggan disebutkan namanya.
Pemilik usaha laundry pun mengakui adanya peningkatan omzet yang cukup drastis. "Kenaikannya bisa sampai 50 persen dibandingkan hari biasa," ungkap salah seorang pemilik laundry di kawasan Jakarta Selatan. Menurutnya, lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya jumlah pelanggan yang tidak memiliki waktu atau tenaga untuk mencuci pakaian sendiri.
Selain itu, beberapa usaha laundry memilih untuk tutup sementara selama libur Lebaran, sehingga pelanggan yang membutuhkan jasa pencucian pakaian menumpuk di tempat-tempat yang masih beroperasi. Akibatnya, warga terpaksa mengantre dan menunggu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan layanan laundry.
Fenomena ini menggambarkan perubahan pola konsumsi masyarakat urban, khususnya saat musim liburan. Ketergantungan pada jasa laundry semakin meningkat ketika tenaga bantuan rumah tangga tidak tersedia. Kondisi ini menjadi peluang bagi pengusaha laundry untuk meningkatkan pendapatan, namun juga menjadi tantangan untuk memberikan pelayanan yang optimal di tengah lonjakan permintaan.



