Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeluarkan ancaman balasan terhadap Amerika Serikat (AS). Garda Revolusi Iran menyatakan akan menyerang pembangkit listrik di seluruh wilayah Timur Tengah jika Presiden AS, Donald Trump, merealisasikan ancamannya untuk membom fasilitas serupa di Iran.
Ancaman ini muncul sebagai respons atas permintaan Trump agar Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu 48 jam. Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa jika AS menyerang, mereka akan membalas dengan menargetkan pembangkit listrik yang memasok energi ke pangkalan-pangkalan Amerika, termasuk infrastruktur ekonomi, industri, dan energi di mana AS memiliki kepentingan.

"Jangan ragu bahwa kami akan melakukan ini," tegas Garda Revolusi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Ancaman Teheran ini berpotensi mengganggu pasokan listrik dan air di negara-negara Arab Teluk, mengingat banyak negara di kawasan tersebut menggabungkan pembangkit listrik mereka dengan pabrik desalinasi yang vital untuk menyediakan air minum. Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, bahkan telah menerbitkan daftar fasilitas yang menjadi target potensial, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Uni Emirat Arab.
Dewan Pertahanan Iran juga memperingatkan terhadap kemungkinan invasi oleh Marinir AS, dengan menyatakan bahwa setiap upaya musuh untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran akan dibalas dengan pemasangan ranjau di seluruh jalur akses di Teluk Persia dan sepanjang pantai.
Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, menilai bahwa krisis di Timur Tengah telah memberikan dampak yang lebih buruk pada pasar energi dibandingkan gabungan guncangan minyak tahun 1970-an dan perang Rusia-Ukraina. Pejabat senior PBB, Jorge Moreira da Silva, menambahkan bahwa dunia telah merasakan efek domino dari perang ini, mulai dari kenaikan harga minyak, bahan bakar, hingga gas yang berdampak luas pada jutaan orang, terutama di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika.
Harga Minyak Terus Meroket
Ketegangan yang meningkat telah mendorong harga minyak terus melonjak. Harga minyak mentah Brent, sebagai standar internasional, berada di sekitar US$ 112 per barel, naik hampir 55% sejak Israel dan AS memulai perang dengan menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Perang ini juga menyebabkan fluktuasi di pasar saham global akibat kekhawatiran tentang krisis energi dunia dan masalah lainnya.
Selain menargetkan Israel dan pangkalan Amerika, Iran juga dilaporkan menyerang infrastruktur energi negara-negara tetangganya di Teluk Arab. Iran juga memegang kendali ketat atas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia ke laut lepas dan dilalui oleh seperlima minyak dunia, serta komoditas penting lainnya. Meskipun sejumlah kecil kapal telah berhasil melewati selat tersebut, Iran bersikeras bahwa selat itu tetap terbuka, kecuali untuk AS, Israel, atau sekutu mereka.



