lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pembangunan infrastruktur nasional melalui skema Proyek Strategis Nasional (PSN). Sejak dimulai pada tahun 2016 hingga proyeksi akhir tahun 2026 mendatang, tercatat sebanyak 250 proyek strategis telah berhasil diselesaikan. Angka ini bukan sekadar statistik pembangunan, melainkan representasi dari suntikan modal yang sangat masif, di mana total nilai investasi yang telah dikucurkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 2.396 triliun.
Asisten Deputi Pengembangan Kawasan Ekonomi dan Proyek Strategis Kementerian Koordinator Perekonomian, Suroto, memaparkan perkembangan terkini mengenai target penyelesaian proyek-proyek tersebut. Untuk tahun ini saja, pemerintah telah menetapkan target penyelesaian bagi 10 proyek strategis. Hingga periode September 2026, dilaporkan sebanyak enam proyek telah rampung sepenuhnya.

"Masih ada empat proyek lagi yang kami targetkan untuk tuntas sebelum tahun 2026 berakhir. Di sisi lain, saat ini terdapat sekitar 30 proyek PSN lainnya yang masih dalam proses pengerjaan atau tahap konstruksi," ujar Suroto dalam keterangannya yang dikutip pada Jumat (30/10/2026).
Dampak dari masifnya pembangunan ini tidak main-main. Berdasarkan hasil kajian mendalam yang dilakukan oleh LPEM FEB UI pada tahun 2023, keberadaan PSN diprediksi mampu menghasilkan output ekonomi yang luar biasa besar, yakni mencapai Rp 3.344 triliun. Kontribusi nyata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diperkirakan menyentuh angka Rp 1.564 triliun.
Tak hanya soal angka pertumbuhan ekonomi makro, PSN juga menjadi mesin penggerak kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja. Proyek-proyek ini diperkirakan mampu menyumbang pendapatan tenaga kerja sebesar Rp 1.134 triliun dan membuka peluang kerja bagi sekitar 7,9 juta orang di seluruh Indonesia. Suroto menjelaskan bahwa terdapat efek berganda atau multiplier output sebesar 1,919 kali, yang menandakan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam PSN mampu memicu aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar di sekitarnya.
Salah satu contoh nyata keberhasilan dampak lokal dapat dilihat pada Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Proyek ini telah menjadi magnet ekonomi bagi wilayah tersebut dengan menyerap sebanyak 26.871 tenaga kerja, mulai dari sektor konstruksi hingga pengelola kawasan. Menariknya, sekitar 70 persen dari tenaga kerja tersebut merupakan warga lokal Kabupaten Batang.
Keberadaan KIT Batang juga memicu lonjakan ekonomi daerah yang signifikan. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batang tercatat mencapai 7,79 persen, angka yang jauh melampaui pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang berada di level 5,37 persen. Tren positif ini diprediksi akan terus berlanjut, di mana penyerapan tenaga kerja di kawasan tersebut diperkirakan akan meningkat hingga 33.237 orang pada tahun 2026.
Suroto menegaskan bahwa keberhasilan ini membuktikan bahwa pengembangan PSN, terutama di sektor kawasan industri, memiliki potensi besar untuk menggerakkan roda ekonomi daerah. Hal ini tercermin dari terciptanya lapangan kerja baru, meningkatnya pendapatan masyarakat, hingga tumbuhnya berbagai unit usaha pendukung di sekitar area proyek.




