Integrasi Tarif Tol Jabodetabek Segera Terwujud

lahatsatu.com – Wacana mengenai integrasi tarif jalan tol di kawasan Jabodetabek kini tengah menjadi sorotan hangat. Langkah ini dipandang sebagai solusi strategis untuk menciptakan efisiksi

Agus sujarwo

Integrasi Tarif Tol Jabodetabek Segera Terwujud

lahatsatu.com – Wacana mengenai integrasi tarif jalan tol di kawasan Jabodetabek kini tengah menjadi sorotan hangat. Langkah ini dipandang sebagai solusi strategis untuk menciptakan efisiksi dalam distribusi logistik serta memperlancar arus lalu lintas di wilayah penyangga ibu kota. Berdasarkan hasil survei daring yang dilakukan oleh Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), sebanyak 74,1% responden menyatakan dukungan terhadap rencana integrasi tarif ini, terutama dari kalangan pelaku logistik dan komuter rutin.

Pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) kini tengah berupaya keras mematangkan landasan regulasi. Target utamanya adalah mempercepat pelaksanaan integrasi agar distribusi kendaraan dapat tersebar lebih merata dan tidak menumpuk pada satu ruas tertentu saja. Anggota BPJT Kementerian Pekerjaan Umum, Sony Sulaksono Wibowo, mengungkapkan bahwa harmonisasi aturan sangat krusial agar integrasi ini bisa segera diimplementasikan di lapangan.

Integrasi Tarif Tol Jabodetabek Segera Terwujud
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Salah satu fokus utama dalam integrasi ini adalah koridor logistik yang menghubungkan Tol Cibitung-Cilincing, Jakarta-Cikampek, dan Tol Akses Tanjung Priok (ATP). Penyelarasan tarif di ketiga ruas ini diharapkan mampu memperlancar arus barang dari kawasan industri menuju Pelabuhan Tanjung Priok secara lebih efisien. Selama ini, perbedaan urutan pembangunan dan disparitas tarif antar ruas tol seringkali membuat beban lalu lintas tidak merata, di mana beberapa ruas mengalami kepadatan ekstrem sementara jalur alternatif justru kurang dimanfaatkan.

Namun, rencana ini tidak lepas dari berbagai catatan kritis. Ahmad Sugiono, perwakilan dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jakarta, mengingatkan bahwa biaya logistik sangat sensitif terhadap perubahan tarif. Menurutnya, penghematan waktu tempuh tidak akan berarti jika biaya perjalanan justru membengkak. Jika tarif tol terlalu mahal, pengemudi cenderung akan kembali menggunakan jalan arteri meskipun harus menghadapi kemacetan.

Senada dengan hal tersebut, Gibran Sesunan dari Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menekankan bahwa penetapan tarif tidak boleh hanya berdasarkan golongan kendaraan. Kebijakan tarif harus melihat fungsi strategis dari masing-masing ruas. Misalnya, ruas yang memang dirancang khusus untuk jalur logistik harus memiliki tarif yang lebih terjangkau agar menarik minat pelaku usaha untuk beralih dari jalan non-tol.

Tantangan nyata juga diungkapkan oleh Sugi Purnoto, Senior Consultant Supply Chain Indonesia. Ia memberikan simulasi bahwa jika pengemudi beralih ke ruas tol khusus logistik, biaya tol bisa melonjak dari yang semula hanya 7-14% dari uang jalan, menjadi 28-40%. Lonjakan biaya ini berisiko menekan pendapatan pengemudi dan mengganggu operasional distribusi. Oleh karena itu, konektivitas fisik jalan tol harus dibarengi dengan skema tarif yang masuk akal agar tujuan efisiensi nasional dapat tercapai tanpa membebani ekosistem logistik.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar