Indosat Ooredoo terus berinvestasi besar untuk membangun infrastruktur internet di Indonesia Timur. Perusahaan telekomunikasi ini telah menggelontorkan dana Rp 9,6 triliun dari total target Rp 12 triliun.
"Kami sudah menyerap hampir 80% dari nilai itu untuk pembangunan Indonesia Timur," ungkap Steve Saerang, SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo. Investasi ini akan terus berlanjut hingga tahun depan.

Meskipun fokus pada pembangunan infrastruktur 4G, Indosat masih belum berencana untuk membangun jaringan 5G di Indonesia Timur. "Langkah ini diambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat," jelas Steve.
Menurut CEO Indosat Ooredoo, Vikram Sinha, ada baiknya Indonesia telat menggunakan infrastruktur jaringan 5G. "Dengan keterlambatan itu, Indonesia bisa belajar dari negara maju yang sudah lebih dahulu menggunakan teknologi tersebut," ujar Steve.
"Nah, di sana ekosistemnya dulu yang dibangun. Nanti berkembang dulu ekosistemnya, lalu jaringan mengikuti. Karena kalau kita berinvestasi tapi tak ada yang menggunakan, itu bakal menjadi sesuatu yang tidak baik bagi operator," tambahnya.
Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, juga menargetkan pemerataan infrastruktur dan jangkauan sinyal 4G di Indonesia. "Periode yang lalu dan sebelumnya, kita sudah mencapai jangkauan 97% konektivitas, tapi ini belum ada artinya kalau koneksinya masih sebagian 2G. Jadi, artinya sangat lambat," ujar Meutya.
Meutya menargetkan pemerataan ini bakal berlangsung di 65 desa. Prioritas Kementerian Komunikasi dan Digital dalam 100 hari masa kerjanya adalah meningkatkan kapasitas infrastruktur konektivitas agar koneksi internet di berbagai daerah bisa lebih cepat, tidak hanya luas.




























