Jakarta, Lahatsatu.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang pemanfaatan teknologi dari Rusia dan China dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Kedua negara tersebut dinilai memiliki tawaran teknologi Small Modular Reactor (SMR) yang menjanjikan dan telah dipelajari oleh pemerintah.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyampaikan bahwa opsi teknologi dari China dan Rusia muncul sebagai pertimbangan utama, merujuk pada potensi pembahasan yang terjadi selama kunjungan Menteri ESDM sebelumnya. "Untuk teknologi yang ditawarkan katanya itu ada dari China atau dari Rusia… Kita tunggu penjelasan dari Pak Menteri," ujarnya di Jakarta, Jumat (20/6/2025).

Meskipun demikian, Yuliot belum dapat memastikan negara mana yang teknologinya akan dipilih. Ia menekankan pentingnya kajian mendalam terhadap berbagai aspek, termasuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pemerintah menetapkan persyaratan TKDN minimal 40% dalam pengembangan PLTN ini.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan pembangunan PLTN dapat dimulai pada tahun 2027 dan beroperasi pada tahun 2032. Persiapan regulasi terkait pengembangan PLTN tengah digodok oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Rencana ini juga telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2025-2034.
"Dan rencana kita di 2030-an, 2032 sudah selesai. Jadi mungkin pembangunannya itu lagi 4-5 tahun. Jadi mungkin 2027 sudah mulai on kerjanya," kata Bahlil.
PLTN rencananya akan dibangun di Sumatera dan Kalimantan dengan kapasitas awal 250 Megawatt (MW). Pemerintah akan memulai dengan skala kecil terlebih dahulu sebelum mengembangkan kapasitas yang lebih besar. "Tapi kita mulai dengan kecil-kecil dulu. 250 MW, 250 MW dulu. Kalau ini sudah bagus, baru kita mainkan," pungkas Bahlil.




