Harga Minyak Tinggi Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Bawah 5 Persen

Jakarta – Kenaikan harga minyak dunia yang terus berlanjut berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Para ahli ekonomi memperkirakan, jika harga minyak bertahan di level

Agus sujarwo

Harga Minyak Tinggi Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Bawah 5 Persen

Jakarta – Kenaikan harga minyak dunia yang terus berlanjut berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Para ahli ekonomi memperkirakan, jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terperosok di bawah angka 5%.

Halim Alamsyah, Board of Experts Prasasti, mengungkapkan bahwa dengan harga minyak di kisaran US$ 90-100 per barel, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di kisaran 4,7% hingga 4,9%. Angka ini jauh di bawah target dan rata-rata pertumbuhan beberapa tahun terakhir.

Harga Minyak Tinggi Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Bawah 5 Persen
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen," ujar Halim dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, Halim juga menyoroti potensi defisit fiskal yang membengkak jika harga minyak tetap tinggi dan nilai tukar Rupiah melemah. Ia memperkirakan defisit fiskal dapat melampaui batas aman 3% dari PDB, mencapai kisaran 3,3-3,5%.

Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menekankan pentingnya pengelolaan kebijakan makro yang hati-hati oleh pemerintah. Kebijakan untuk tidak menaikkan harga BBM saat ini dinilai sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Namun, keberlanjutan kebijakan ini sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia.

"Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik. Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran," kata Piter.

Piter juga mengingatkan tentang kombinasi risiko yang perlu diantisipasi, seperti kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar, dan tekanan fiskal. Koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi, melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), menjadi sangat penting dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat.

"Dunia usaha dan pelaku pasar tentu menunggu sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, OJK, serta Kementerian Keuangan mengenai arah stabilitas sistem keuangan ke depan," tambahnya.

Data historis menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM dapat memberikan dampak signifikan terhadap inflasi. Analisis Lahatsatu menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM berpotensi menambah sekitar 0,7 hingga 1,8 poin persentase terhadap inflasi, tergantung pada besaran dan waktu penyesuaian.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar