Harga Emas Terjun Bebas di Tengah Ketegangan AS-Iran, Ada Apa?

Jakarta – Harga emas global mengalami penurunan signifikan di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Para investor dilaporkan mulai mengalihkan perhatian mereka

Agus sujarwo

Harga Emas Terjun Bebas di Tengah Ketegangan AS-Iran, Ada Apa?

Jakarta – Harga emas global mengalami penurunan signifikan di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Para investor dilaporkan mulai mengalihkan perhatian mereka ke aset-aset lain yang dianggap lebih aman di tengah situasi krisis ini.

Menurut laporan dari CNN, harga emas dunia telah merosot sebesar 11% dalam sepekan terakhir, menjadi penurunan terdalam sejak tahun 1983. Bahkan, sejak awal konflik AS-Iran, harga emas telah anjlok lebih dari 14%.

Harga Emas Terjun Bebas di Tengah Ketegangan AS-Iran, Ada Apa?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, berpendapat bahwa emas kini kurang menarik dibandingkan dengan dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss sebagai aset safe haven. Selain itu, harga emas yang telah melonjak tinggi dalam dua tahun terakhir mendorong banyak pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung.

"Emas kini kurang diminati dibandingkan dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss sebagai tempat berlindung yang aman saat krisis Timur Tengah. Harga emas sudah terlalu tinggi, sehingga banyak trader yang melakukan profit taking setelah mengakumulasi emas selama dua tahun terakhir," ujarnya saat dihubungi Lahatsatu.

Selain itu, kebutuhan akan likuiditas membuat investor lebih memilih untuk memegang uang tunai. Bhima menambahkan bahwa mata uang Paman Sam berhasil memenangkan persaingan sebagai aset aman di tengah krisis. Ia memperkirakan harga emas akan turun ke level Rp 1,9-2 juta per gram.

"Kebutuhan likuiditas juga membuat emas kurang menarik. Sekarang, ‘cash is the king’, yang berarti dolar AS adalah raja. Setelah isu dedolarisasi mencuat, kini dolar AS memenangkan pertarungan sebagai aset teraman di tengah krisis. Harga emas ke depan diperkirakan masih akan terkoreksi, diproyeksikan ke level Rp 1,9-2 juta per gram," jelas Bhima.

Penurunan Harga Emas yang Tidak Lazim

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa penurunan harga emas di tengah konflik yang terjadi memang tidak biasa. Hal ini menunjukkan bahwa pasar lebih dipengaruhi oleh faktor finansial daripada geopolitik.

Yusuf mengatakan bahwa ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Emas yang tidak memberikan imbal hasil akhirnya ditinggalkan sementara oleh investor, sehingga harganya ikut tertekan.

"Dalam beberapa waktu terakhir, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga tinggi lebih lama membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Emas yang tidak memberikan imbal hasil akhirnya ditinggalkan sementara oleh investor, sehingga harganya tertekan," jelas Yusuf.

Senada dengan Bhima, Yusuf menyebutkan bahwa penguatan nilai tukar dolar AS juga ikut menekan harga emas. Emas yang dijual dalam dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan melemah.

"Di saat yang sama, penguatan dolar AS juga ikut memperbesar tekanan, karena emas dihargakan dalam dolar. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global. Ini membuat permintaan tidak sekuat biasanya, meskipun situasi global masih penuh risiko. Dalam konteks ini, pasar tampaknya melihat bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel belum sampai pada level yang benar-benar mengganggu stabilitas ekonomi global, sehingga dorongan ke aset safe haven seperti emas belum terlalu kuat," tutur Yusuf.

Investor Beralih ke Dolar AS dan Obligasi

Menurut Yusuf, saat ini aset safe haven tidak lagi terpusat pada emas. Sebagian investor justru beralih ke dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

"Menariknya, saat ini aset safe haven juga tidak hanya emas. Sebagian investor justru lebih memilih dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga permintaan terhadap emas menjadi lebih terfragmentasi. Ini berbeda dengan pola klasik di mana emas biasanya menjadi tujuan utama saat risiko global meningkat," katanya.

Yusuf menyebutkan bahwa ke depannya, arah harga emas sangat ditentukan oleh dinamika suku bunga dan eskalasi geopolitik. Jika inflasi mereda dan suku bunga turun, emas berpotensi menguat kembali.

"Di sisi lain, jika konflik global berkembang lebih luas dan mulai berdampak ke sektor riil seperti energi atau perdagangan, maka permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai juga bisa meningkat," tutupnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar