lahatsatu.com – Kenaikan harga daging ayam ras di sejumlah wilayah Indonesia mulai memicu kekhawatiran terkait laju inflasi nasional. Fenomena ini disinyalir terjadi akibat lonjakan permintaan yang signifikan seiring dengan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah, ditambah dengan fluktuasi harga pakan ternak yang belum stabil.
Menanggapi situasi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat dengan menyiapkan skema bantuan untuk menekan harga di tingkat konsumen. Langkah strategis yang diambil adalah pemberian subsidi biaya distribusi atau angkutan bagi pemerintah daerah yang bukan merupakan sentra produksi ayam, namun sedang mengalami lonjakan harga yang tajam.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa meskipun terjadi kenaikan permintaan dalam beberapa bulan terakhir, harga di pasar secara umum masih dalam batas wajar. Kenaikan harga cenderung bersifat lokal dan hanya terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan pasokan dari produsen.
"Kebutuhan memang meningkat, sehingga ada kenaikan harga di beberapa tempat. Namun, secara keseluruhan harga masih terkendali. Di banyak daerah, harga ayam masih murah, hanya saja ada daerah tertentu yang produksi ayamnya memang kurang," ujar Hermawan dalam keterangan resminya.
Menurut Hermawan, kendala utama yang sering dihadapi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan adalah tingginya biaya logistik. Daerah yang tidak memproduksi ayam sendiri harus mendatangkan pasokan dari luar daerah, yang secara otomatis menambah beban harga jual di pasar lokal.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bapanas menawarkan solusi berupa subsidi biaya angkut. Dengan adanya subsidi ini, diharapkan distribusi daging ayam dari daerah surplus produksi dapat mengalir lebih lancar dan murah ke daerah-daerah yang mengalami defisit pasokan. "Kami pastikan daerah yang kekurangan pasokan akan disuplai dari daerah produsen. Anggaran untuk subsidi distribusi ini masih tersedia," tegasnya.
Jika menilik data historis, komoditas ayam ras sebenarnya sempat mengalami masa sulit. Pada April dan Mei 2026, komoditas ini sempat mencatatkan deflasi yang cukup dalam, yang berdampak langsung pada kesejahteraan peternak unggas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks harga yang diterima petani sempat merosot tajam sebelum akhirnya mulai menguat kembali pada periode Agustus dan September 2026.
Terkait ketersediaan stok, Bapanas optimistis bahwa pasokan daging ayam ras hingga akhir tahun 2026 akan tetap aman. Proyeksi stok nasional diperkirakan mampu mencapai 1 juta ton, mengingat estimasi produksi dalam negeri mencapai 4,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di angka 3,9 juta ton.
Selain masalah distribusi, pemerintah juga fokus pada stabilitas harga pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Program ini merupakan instruksi langsung dari Menteri Pertanian untuk memastikan peternak, terutama skala mikro, kecil, dan menengah, mendapatkan akses pakan dengan harga terjangkau. Hingga awal Oktober 2026, realisasi penyaluran jagung pakan SPHP telah mencapai lebih dari 71 persen, yang tersebar di 29 provinsi di seluruh Indonesia.




