Jakarta, Lahatsatu.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang menekan perekonomian nasional.
Ekonom Ariyo DP Irhamna dalam Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia sebesar US$ 3-4 miliar akibat kenaikan harga minyak US$ 10 per barel. "Kondisi ini akan langsung terasa pada neraca pembayaran kita," ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Selain itu, Ariyo juga menyoroti ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap Indonesia, serbuan produk China ke pasar domestik, serta dampak decoupling technology antara China dan AS yang membuat Indonesia terjepit.
Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, menyoroti dampak perang di Timur Tengah terhadap sektor perdagangan dan keuangan Indonesia. Ia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini mengalami capital outflow yang cukup signifikan.
"Capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Sejak era Prabowo, perlahan mereka yang memiliki uang (domestic ataupun orang asing) melarikan dananya ke luar negeri dan belum kembali sampai saat ini," terang Halim.
Halim menambahkan bahwa konflik Iran vs AS-Israel hanya memperburuk risiko keuangan yang sudah ada. Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan di kisaran 5% selama 15 tahun terakhir, yang menurutnya dapat menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas angka pertumbuhan tersebut.



