Jakarta – Guncangan internal mengguncang eFishery, startup unicorn di sektor perikanan. Lahatsatu memperoleh informasi bahwa perusahaan tengah menyelidiki CEO Gibran Huzaifah dan Chief Product Officer (CPO) Chrisna Aditya terkait dugaan penyelewengan dana perusahaan.
Informasi ini pertama kali diungkap oleh DealStreetAsia, yang menyebutkan bahwa investigasi dilatarbelakangi dugaan penyimpangan dalam laporan kinerja dan pendapatan keuangan perusahaan. Sebagai respons, eFishery telah menunjuk Adhy Wibisono, sebelumnya menjabat sebagai CFO, sebagai CEO interim. Posisi CFO pun diisi sementara oleh Albertus Sasmitra.

"Keputusan ini diambil bersama pemegang saham sebagai komitmen untuk meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik," ungkap juru bicara eFishery dalam pernyataan resmi, Senin (16/12). Perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk menjaga standar tertinggi dalam tata kelola dan etika operasional. Baik Gibran maupun Chrisna belum memberikan komentar resmi terkait investigasi ini.
eFishery, yang didirikan Gibran pada 2013 di Bandung, telah menjelma menjadi raksasa di industri akuakultur. Perusahaan ini mencapai status unicorn setelah mendapatkan pendanaan Seri D senilai US$ 200 juta tahun lalu, menempatkan valuasinya di atas US$ 1 miliar. Keberhasilan ini diraih melalui tiga lini layanan utama: eFish untuk pembudidaya ikan, eShrimp untuk pembudidaya udang, dan platform penjualan produk hasil laut bagi pengusaha dan pembeli.
Perjalanan eFishery tidak selalu mulus. Gibran sendiri pernah menceritakan kesulitan awal dalam memasarkan produk eFeeder, alat pemberian pakan ikan otomatis andalan perusahaan. Ia bahkan harus memberikan insentif agar para pembudidaya mau mencobanya. Namun, dengan strategi membangun jaringan dan kerja sama dengan para petani, eFishery berhasil berkembang pesat, hingga kini beroperasi di 280 kota/kabupaten di Indonesia dan melayani ribuan kolam ikan dan udang.
Kesuksesan eFishery berlanjut dengan pendanaan Seri C senilai US$ 90 juta pada 2022, dan tambahan pendanaan US$ 378 juta pada semester I 2023. Perusahaan juga telah melebarkan sayap ke pasar India dan mencatatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) positif di sana hanya dalam setahun beroperasi. Di Indonesia sendiri, eFishery telah membukukan keuntungan selama tiga tahun terakhir. Pertumbuhan pendapatan perusahaan pun tercatat sangat signifikan, mencapai 35% year on year (yoy) pada semester I 2023, dan diproyeksikan mencapai 50% untuk sepanjang tahun ini.
Investigasi terhadap CEO dan CPO tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan eFishery. Bagaimana dampaknya terhadap kinerja perusahaan dan kepercayaan investor? Lahatsatu akan terus memantau perkembangan situasi ini.




