Fokus Manfaat Nyata Bukan Proyek Mercusuar

lahatsatu.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan arah kebijakan pembangunannya tidak akan terjebak pada ambisi membangun proyek-proyek megah yang bersifat mercusuar. Alih-alih mengejar kemegahan

Agus sujarwo

Fokus Manfaat Nyata Bukan Proyek Mercusuar

lahatsatu.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan arah kebijakan pembangunannya tidak akan terjebak pada ambisi membangun proyek-proyek megah yang bersifat mercusuar. Alih-alih mengejar kemegahan visual yang seringkali hanya menjadi simbol kekuasaan, Pramono lebih memilih untuk memprioritaskan penyelesaian berbagai pekerjaan infrastruktur yang belum tuntas dari kepemimpinan sebelumnya.

Menurut Pramono, esensi dari sebuah pembangunan adalah sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Ia menilai, membangun proyek berskala raksasa akan menjadi sia-sia jika dampak positif yang dihasilkan tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Baginya, keberhasilan seorang pemimpin di Jakarta diukur dari solusi nyata atas permasalahan harian warga, bukan dari banyaknya monumen baru yang berdiri.

Fokus Manfaat Nyata Bukan Proyek Mercusuar
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dalam acara Peluncuran Konsep Desain Transformasi Kawasan Blok M Fase Ultimate di Jakarta pada Selasa (6/10/2026), Pramono mengungkapkan bahwa fokus utamanya adalah menuntaskan janji-janji pembangunan yang masih menggantung. Salah satu contoh konkret yang ia soroti adalah kelanjutan proyek LRT Jakarta.

Pramono menceritakan sejarah panjang pembangunan LRT Jakarta yang dimulai sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mendukung Asian Games, dengan rute awal dari Kelapa Gading hingga Velodrome. Proyek ini kemudian diteruskan pada masa Penjabat (Pj) Gubernur Heru Budi Hartono menuju Manggarai. Menariknya, Pramono mengaku sempat terlibat dalam pembahasan kelanjutan proyek tersebut saat ia masih menjabat sebagai Sekretaris Kabinet.

Ia memberikan bukti nyata keberhasilan penyelesaian proyek transportasi ini. Meskipun saat ini masih ada tiga stasiun yang belum beroperasi secara penuh, jumlah penumpang LRT Jakarta telah melonjak drastis. Jika sebelumnya rata-rata penumpang hanya berkisar di angka 4.000 orang per hari, kini angka tersebut telah menyentuh 9.000 hingga 10.000 orang. Pramono optimis, jika seluruh stasiun sudah beroperasi maksimal, angka penumpang bisa melesat hingga 60.000 sampai 80.000 orang setiap harinya.

Tak hanya transportasi massal, Pramono juga menaruh perhatian besar pada penataan kawasan pemukiman. Ia berkomitmen melakukan pembenahan di kawasan Tanah Abang, Kebon Kacang, hingga Kampung Bali. Ironisnya, kawasan yang letaknya sangat dekat dengan pusat pemerintahan dan Bundaran HI tersebut masih tergolong kumuh. Namun, Pramono menjamin bahwa proses pembenahan ini akan dilakukan tanpa melakukan penggusuran terhadap warga yang tinggal di sana.

Selain itu, ia juga mencontohkan keberhasilan penataan akses menuju Jakarta International Stadium (JIS). Masalah kemacetan parah yang kerap terjadi saat ada acara besar di JIS kini mulai teratasi berkat integrasi akses menuju Ancol yang didukung layanan KRL, TransJakarta, serta penyediaan lahan parkir yang luas.

Sejumlah proyek strategis lainnya yang juga menjadi prioritas penyelesaian meliputi penataan Jalan Rasuna Said, kelanjutan jalur LRT Jakarta menuju Dukuh Atas, pembangunan flyover Latumenten, hingga pembangunan jalan sejajar di kawasan Kalibata. Semua ini dilakukan demi satu tujuan: memastikan Jakarta terus bergerak maju dengan fondasi yang kuat dan bermanfaat bagi seluruh warganya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar