Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Tantangan

lahatsatu.com – Kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang cukup impresif di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan

Agus sujarwo

Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Tantangan

lahatsatu.com – Kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang cukup impresif di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan catatan positif terkait capaian neraca perdagangan nasional yang berhasil mencatatkan surplus signifikan sebesar US$ 3,36 miliar pada periode September 2026.

Pencapaian ini tergolong luar biasa mengingat Indonesia mampu mempertahankan tren positif perdagangan meskipun menghadapi tekanan dari sisi konsumsi luar negeri. Hal ini terlihat dari lonjakan nilai impor yang meningkat hampir menyentuh angka 20 persen. Namun, kuatnya kinerja ekspor nasional mampu menyeimbangkan arus keluar barang tersebut, sehingga posisi neraca perdagangan tetap berada di zona hijau.

Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Tantangan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Airlangga menjelaskan bahwa selama sepuluh bulan terakhir, stabilitas ekonomi makro Indonesia masih terjaga dengan sangat baik. Tidak hanya dari sisi perdagangan, indikator inflasi nasional juga menunjukkan stabilitas yang diharapkan oleh pemerintah dan pasar. Saat ini, angka inflasi masih berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan, yakni di kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan tercatat berada di angka 0,22 persen. Sementara itu, jika dilihat secara tahunan (year-on-year), inflasi berada pada level 3,23 persen. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa daya beli masyarakat masih terkendali dan risiko lonjakan harga yang ekstrem dapat diminimalisir.

"Neraca perdagangan selama sepuluh bulan terakhir menunjukkan tren yang baik. Begitu juga dengan tingkat inflasi yang masih berada dalam koridor sasaran pemerintah. Secara akumulatif dari awal tahun hingga saat ini, kondisi ekonomi kita masih sangat sehat," ujar Airlangga saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).

Selain indikator perdagangan dan inflasi, optimisme ekonomi Indonesia juga diperkuat oleh sektor manufaktur. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia mengalami kenaikan yang cukup tajam menjadi level 54,0 pada Oktober 2026. Angka ini meningkat dibandingkan posisi bulan sebelumnya, September 2026, yang berada di level 52,4. Menurut Airlangga, kenaikan angka PMI ini merupakan cerminan dari meningkatnya kepercayaan pelaku usaha dan optimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Di sisi lain, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa mesin utama penggerak surplus perdagangan pada September 2026 adalah sektor non-minyak dan gas (nonmigas). Sektor nonmigas memberikan kontribusi surplus yang sangat besar, yakni mencapai US$ 5,67 miliar, yang secara efektif menutupi defisit di sektor migas dan menjaga total surplus tetap di angka US$ 3,36 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi komoditas ekspor Indonesia mulai menunjukkan hasil yang nyata dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar