lahatsatu.com – Suara bising deru ribuan sepeda motor yang memadati jalanan di kawasan Bahodopi setiap pergantian sif kerja bukanlah sekadar gangguan bagi Fitra. Baginya, raungan mesin tersebut adalah simfoni peluang ekonomi yang menjanjikan. Sejak tahun 2017, Fitra telah melihat potensi besar di balik mobilitas tinggi para pekerja industri di wilayah tersebut.
Berawal dari sebuah bengkel motor sederhana di Desa Siumbatu yang dikelola istrinya saat ia masih bekerja di Kalimantan, Fitra akhirnya memutuskan untuk pulang dan fokus sepenuhnya pada bisnisnya setelah pandemi COVID-19 melanda. Pengamatannya tajam: mayoritas karyawan di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sangat bergantung pada sepeda motor sebagai alat transportasi utama.

Keputusan tersebut terbukti sangat tepat. Bengkel miliknya, Segar Jaya Berkah, kini telah berkembang pesat hingga memiliki enam cabang dengan lebih dari 50 karyawan. Tidak main-main, para mekanik di bengkelnya kini mampu mengantongi upah hingga Rp8 juta per bulan. "Perubahannya sangat cepat. Tahun 2018 jalanan belum beraspal, namun kini perkembangannya sangat masif," ungkap Fitra.
Transformasi Bahodopi, yang terletak di tepi Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, merupakan dampak nyata dari kebijakan hilirisasi mineral pemerintah. Sejak larangan ekspor bijih mentah diberlakukan pada 2013, kawasan ini bertransformasi dari wilayah yang nyaris tidak dikenal menjadi pusat industri nikel dunia.
Lonjakan jumlah tenaga kerja di kawasan IMIP mencatat angka yang fantastis. Jika pada 2020 jumlah pekerja tercatat sekitar 35.592 orang, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai 100.310 orang pada September 2026. Ledakan populasi pekerja ini menciptakan perputaran uang yang luar biasa besar di Bahodopi. Pada tahun 2025 saja, diperkirakan perputaran uang di wilayah ini mencapai Rp499,1 miliar per bulan, atau setara dengan Rp6 triliun per tahun.
Dinamika ekonomi ini memicu pertumbuhan sektor UMKM yang sangat masif. Berdasarkan data riset, jenis usaha yang paling mendominasi adalah kios Pertamini, stan minuman, stan makanan, kios umum, hingga warung makan. Banyak dari usaha ini berskala mikro dengan omzet mencapai Rp300 juta per tahun, namun memiliki tren pertumbuhan yang sangat positif.
Selain sektor otomotif, peluang bisnis jasa juga terbuka lebar. Ayu Lestari Rahman, seorang warga Desa Fatufia, menangkap peluang dari kebutuhan jasa laundry bagi para pekerja pabrik yang memiliki keterbatasan waktu untuk mencuci sendiri. Melalui usaha laundry BlueSea yang dirintis sejak 2022, Ayu kini mampu mengolah sekitar 200 kilogram pakaian setiap harinya.
"Di sini banyak orang yang sibuk bekerja, sehingga tidak sempat mencuci," ujar Ayu yang kini mampu meraup omzet sekitar Rp35 juta per bulan. Keberhasilan Ayu menjadi bukti nyata bagaimana kehadiran industri besar mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru yang menyejahterakan warga lokal.
Dampak ekonomi ini juga tercermin pada data makro. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, mencatat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 mencapai 9,43 persen (yoy). Angka ini menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, yang didorong kuat oleh sektor industri pengolahan berbasis nikel.




