Hari Belanja Nasional (Harbolnas) 10-16 Desember lalu mencatatkan transaksi Rp 31,2 triliun, angka yang lebih rendah dari target pemerintah sebesar Rp 40 triliun. Meskipun demikian, capaian ini tetap menunjukkan pertumbuhan 21,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 25,7 triliun. Kontribusi produk lokal tercatat cukup signifikan, mencapai Rp 16,1 triliun atau 52% dari total transaksi, mengalami peningkatan 31% year-on-year.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menganggap peningkatan penjualan produk lokal sebagai sinyal positif. "Pemerintah terus mendorong promosi dan kampanye untuk memperkuat pasar produk dalam negeri. Dengan terbentuknya pasar yang kuat, suplai akan mengikuti secara otomatis, dan ini juga mengurangi ketergantungan pada produk impor," tegas Airlangga.

Di tengah melesetnya target Harbolnas secara keseluruhan, platform e-commerce mencatat penjualan yang mengesankan, terutama untuk produk lokal dan UMKM. Shopee misalnya, mengalami peningkatan penjualan merek lokal dan UMKM hingga tujuh kali lipat pada puncak kampanye 12.12 Birthday Sale. Beberapa produk UMKM terlaris di Shopee antara lain: (Daftar produk Shopee akan disisipkan di sini). Shopee Live juga mencatatkan peningkatan transaksi lebih dari sembilan kali lipat untuk brand lokal dan UMKM.
Sementara itu, TikTok Shop Tokopedia menorehkan peningkatan nilai transaksi hingga 50 kali lipat melalui fitur live streaming selama kampanye Promo Guncang 12.12. Kampanye Beli Lokal juga sukses mendorong penjualan UMKM hingga 70%. Produk-produk terlaris di TikTok Shop Tokopedia selama Harbolnas antara lain: (Daftar produk Tokopedia akan disisipkan di sini). Tokopedia juga merilis data produk terlaris menjelang tahun baru 2025: (Daftar produk Tokopedia menjelang tahun baru akan disisipkan di sini).
Meskipun target Harbolnas belum tercapai, pertumbuhan penjualan produk lokal yang signifikan menunjukkan potensi besar pasar dalam negeri dan keberhasilan strategi pemerintah dalam mendorong konsumsi produk lokal.




