lahatsatu.com – Pasar modal Indonesia tengah berada dalam posisi yang cukup krusial. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara memberikan sinyal kuat untuk hadir sebagai penopang jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat. Langkah ini menjadi angin segar bagi para pelaku pasar yang khawatir akan potensi pelemahan pasar saham domestik.
Salah satu tantangan terbesar yang membayangi pasar modal Indonesia saat ini adalah potensi pemangkasan klasifikasi oleh MSCI. Jika bulan depan MSCI memutuskan untuk menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, IHSG diprediksi akan menghadapi tekanan jual yang masif. Menanggapi risiko tersebut, Danantara telah menyiapkan amunisi berupa dana sebesar US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 17,89 triliun untuk diinvestasikan di pasar modal domestik hingga akhir tahun 2026.

Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, mengungkapkan bahwa pihaknya siap bergerak jika terjadi krisis yang dipicu oleh sentimen eksternal yang bersifat sementara. Namun, ia menekankan bahwa setiap langkah investasi yang diambil akan melalui proses uji tuntas (due diligence) yang sangat ketat.
"Kami mungkin akan turun tangan jika melihat adanya peluang. Kami membeli aset karena kami melihat nilai (value) di dalamnya. Tujuan utama kami bukanlah untuk menstabilkan pasar secara sengaja, melainkan mencari keuntungan saat pasar sedang tidak menyukai suatu aset," ujar Rani. Strategi ini dilakukan agar Danantara bisa mendapatkan harga aset yang kompetitif untuk kemudian dijual kembali saat sentimen pasar telah membaik.
Saat ini, Danantara mengelola aset negara yang sangat besar, yakni sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Portofolio mereka terdiri dari 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% hedge fund. Menariknya, sekitar seperempat dari total portofolio tersebut ditempatkan di dalam negeri.
Terkait tren teknologi, Rani juga memberikan catatan khusus mengenai sektor kecerdasan buatan (AI). Meskipun ia tidak menganggap AI sebagai sebuah gelembung (bubble) yang akan segera pecah, Danantara memilih untuk masuk ke sektor ini secara sangat hati-hati. Menurutnya, kehati-hatian diperlukan agar tidak terjebak dalam euforia pasar yang berlebihan.
Di sisi lain, Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Mansury, menegaskan bahwa kehadiran dana Danantara tidak dimaksudkan sebagai bentuk intervensi pasar yang mengganggu mekanisme harga. Sebaliknya, langkah ini bertujuan untuk memperdalam pasar keuangan nasional dan meningkatkan tata kelola investasi.
Danantara menargetkan imbal hasil sebesar 200-300 basis poin di atas biaya modal. Selain itu, terkait rencana penyetoran dividen sebesar Rp 120 triliun kepada pemerintah, pihak Danantara masih melakukan diskusi intensif dengan Menteri Keuangan untuk menentukan apakah dana tersebut akan disetorkan tahun ini atau dikelola kembali untuk memperkuat modal investasi.




