lahatsatu.com – Di tengah arus modernisasi yang tak terbendung, denyut nadi sentra kerajinan alat pertanian tradisional di Purwojati, Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah, justru semakin menguat. Ratusan usaha rumahan di kawasan ini membuktikan bahwa warisan leluhur tak lekang oleh waktu, bahkan mampu bersaing di panggung digital global. Mereka tidak hanya teguh mempertahankan metode pembuatan cangkul dan sabit secara turun-temurun, tetapi juga berhasil merambah pasar daring yang luas.
Sebanyak 125 unit industri rumahan di Purwojati secara konsisten menghasilkan alat-alat pertanian berkualitas tinggi. Dari tangan-tangan terampil para pengrajin, lahir cangkul dan sabit yang tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai seni tersendiri. Produk-produk ini kini tak hanya didistribusikan secara konvensional dari mulut ke mulut atau melalui toko fisik, melainkan juga aktif dipasarkan melalui berbagai platform online.

Jangkauan pasar hasil karya pengrajin Wonosobo ini pun meluas hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Konsumen dari berbagai daerah kini bisa dengan mudah mendapatkan cangkul dan sabit khas Purwojati. Untuk sabit, harganya bervariasi mulai dari Rp70 ribu hingga Rp150 ribu per buah, tergantung jenis dan ukuran. Sementara itu, cangkul, yang merupakan primadona, ditawarkan dengan harga antara Rp150 ribu hingga Rp750 ribu, menyesuaikan kualitas material dan tingkat kerumitan pembuatannya. Keberhasilan para pengrajin ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dan adaptasi adalah kunci untuk menjaga agar kerajinan lokal tetap relevan dan menguntungkan di masa kini.




