Jakarta – Setelah penantian panjang selama empat tahun, raksasa fintech asal Tiongkok, Ant Group, dikabarkan akan segera melakukan penawaran saham perdana (IPO). Kabar ini muncul kembali setelah berbagai perubahan tata kelola internal perusahaan. Jika terealisasi, IPO Ant Group diperkirakan akan melampaui rekor IPO terbesar dunia yang saat ini dipegang oleh Saudi Aramco.
Laporan dari Caixin Global pada Jumat (22/11) menyebutkan peningkatan spekulasi terkait IPO Ant Group seiring berakhirnya periode tunggu pasca perubahan tata kelola. Meskipun Ant Group belum memberikan pernyataan resmi, reaksi pasar sudah terlihat dengan melonjaknya harga saham perusahaan-perusahaan afiliasinya.

Rencana IPO Ant Group sebenarnya telah disusun sejak November 2020. Namun, rencana tersebut tertunda setelah pendiri Alibaba, Jack Ma, melontarkan kritik terhadap People’s Bank of China (PBOC) yang dianggap menghambat inovasi bisnis pinjaman online. Ironisnya, saat proses bookbuilding pada Oktober 2020, saham Ant Group justru diburu investor dengan permintaan yang sangat tinggi. Bahkan, permintaan dari investor ritel di Shanghai mencapai 19 triliun yuan (US$ 2,8 triliun), atau oversubscribed 872 kali. Di Hong Kong, permintaan oversubscribed 389 kali mencapai HK$ 1,3 triliun (US$ 168 miliar).
Jika IPO terealisasi pada tahun 2020, Ant Group diperkirakan akan meraup dana segar sebesar US$ 37 miliar (Rp 536,5 triliun), melampaui rekor IPO Saudi Aramco sebesar US$ 29,4 miliar.
Penundaan IPO tersebut juga diwarnai dengan serangkaian peristiwa penting, termasuk pemanggilan Jack Ma oleh PBOC, penundaan IPO oleh Alibaba, dan munculnya rumor nasionalisasi Ant Group. Pada Januari 2023, pemegang saham menyepakati pengurangan kendali Jack Ma atas Ant Group, memicu kembali spekulasi IPO. Namun, Ant Group saat itu membantah rencana tersebut.
Perubahan signifikan terjadi pada Januari 2024, ketika Ant Group menyelesaikan pelepasan kendali atas Alipay, sebuah langkah yang disetujui oleh PBOC dan dinilai sebagai upaya optimalisasi tata kelola perusahaan. Analis senior di Botong Analysys, Wang Pengbo, menilai perubahan ini memungkinkan Ant Group untuk beradaptasi lebih baik dengan dinamika pasar dan melindungi kepentingan pemegang saham serta pengguna.
Ant Group sendiri merupakan perusahaan raksasa dengan portofolio bisnis yang luas, mencakup layanan pembayaran digital Alipay (dengan 1,3 miliar pengguna global), platform pengelolaan uang Yu’e Bao, platform paylater Huabei, platform asuransi Xiang Hu Bao, bank digital Mybank, dan platform penilaian kredit Zhima Credit. Keberadaan platform blockchain Antchain dan akuisisi MoneyGram juga memperkuat posisi Ant Group di pasar global. Dengan portofolio bisnis yang begitu luas dan setelah melalui berbagai perubahan, langkah Ant Group untuk kembali ke bursa saham menjadi langkah yang sangat dinantikan.




