lahatsatu.com – Pemerintah terus memacu realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu pilar utama dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Hingga periode akhir September 2026, tercatat dana yang telah terserap untuk menjalankan program ambisius ini mencapai angka yang fantastis, yakni sebesar Rp 153,2 triliun.
Besarnya anggaran tersebut sejalan dengan luasnya cakupan manfaat yang telah dirasakan oleh masyarakat. Berdasarkan data terbaru, program ini telah berhasil menjangkau sekitar 57 juta penerima manfaat di berbagai wilayah tanah air. Langkah besar ini diambil pemerintah untuk memastikan bahwa asupan nutrisi anak sekolah dapat terpenuhi secara merata guna mendukung tumbuh kembang generasi mendatang.

Dalam konferensi pers APBNKita yang digelar di Jakarta Pusat pada Jumat (9/10/2026), pejabat terkait, Suahasil, mengungkapkan rincian mengenai perkembangan program tersebut. Ia menekankan bahwa meskipun angka penyerapan anggaran sangat besar, fokus utama pemerintah bukan sekadar pada besaran dana, melainkan pada kualitas dan ketepatan sasaran distribusi gizi tersebut.
Salah satu aspek krusial yang menjadi perhatian serius adalah standarisasi keamanan pangan. Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pengelola program, kini memperketat aturan mengenai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau yang lebih dikenal sebagai dapur MBG. Setiap unit dapur wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk menjamin bahwa makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak benar-benar bersih dan sehat.
Tindakan tegas pun diambil dalam upaya menjaga standar kualitas ini. Tercatat, sebanyak 1.276 unit SPPG yang tidak memenuhi syarat sertifikasi higiene sanitasi telah ditutup secara resmi pada September 2026. Langkah ini diambil demi menghindari risiko kesehatan yang dapat merugikan para penerima manfaat.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan ekspansi untuk menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit diakses. BGN dilaporkan telah membuka 480 unit SPPG baru. Dari jumlah tersebut, sebanyak 211 unit merupakan mitra mandiri, sementara 269 unit lainnya difokuskan untuk melayani wilayah terpencil di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Ratusan dapur baru ini dijadwalkan akan mulai beroperasi secara penuh pada akhir Oktober mendatang.
Penambahan dapur di wilayah pelosok ini diharapkan dapat memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak hanya dinikmati oleh masyarakat di perkotaan, tetapi juga menjangkau anak-anak sekolah di pelosok negeri agar lebih tepat sasaran.
Terkait keberlanjutan pendanaan, pemerintah menyatakan bahwa besaran anggaran di masa depan akan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan lapangan dan upaya perbaikan yang dilakukan oleh BGN. Pemerintah berkomitmen untuk menyediakan dana yang cukup guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan gizi secara berkelanjutan di seluruh Indonesia.




