lahatsatu.com – Langkah besar sedang diambil oleh China dalam mengubah peta energi global. Setelah berkomitmen menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru di luar negeri sejak 2021, raksasa Asia ini kini mengalihkan seluruh fokus dan keahlian teknologinya ke sektor energi terbarukan. Melalui inisiatif kerja sama dengan negara-negara mitra dalam program Belt and Road, China mulai merambah berbagai belahan dunia untuk membangun infrastruktur energi hijau, mulai dari tenaga surya, angin, hingga tenaga air.
Ekspansi energi bersih ini tidak hanya bertujuan untuk menekan emisi karbon global, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi di negara-negara berkembang. Dengan membawa teknologi mutakhir, China membantu negara mitra memperluas akses listrik, menciptakan lapangan kerja baru, serta melakukan transfer teknologi yang meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal.

Di Asia Tenggara, jejak teknologi hijau China sudah terlihat nyata. Salah satu contoh suksesnya dapat ditemukan di Karawang, Jawa Barat. Melalui China Electric Power Construction Group Hubei Engineering Co Ltd, sebuah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 megawatt (MW) telah mulai beroperasi sejak 2024. Proyek ini menjadi tulang punggung listrik bersih bagi kawasan industri setempat, yang mampu menekan emisi karbon hingga 19.800 ton per tahun serta menghemat penggunaan batu bara secara signifikan. Tak hanya soal listrik, proyek ini juga memberikan dampak sosial melalui pelatihan bagi lebih dari 300 pekerja lokal agar mampu mengelola teknologi tersebut secara mandiri.
Tak jauh dari Indonesia, Vietnam juga merasakan manfaat serupa. Di Provinsi Gia Lai, PowerChina Jiangxi Electric Power Engineering Co Ltd telah membangun PLTS Phu My berkapasitas 330 MW. Menariknya, teknologi yang digunakan telah disesuaikan dengan kondisi iklim setempat agar tahan terhadap korosi air laut, suhu ekstrem, dan badai topan. Proyek raksasa ini mampu menghasilkan 520 juta kWh per tahun dan menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal, sekaligus memperkuat kemitraan energi bersih antara China dan Vietnam.
Perluasan pengaruh energi hijau China juga menyentuh wilayah Asia Selatan, khususnya Pakistan. Di sana, teknologi tenaga surya China hadir sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang mahal. Dengan skema pembayaran yang lebih fleksibel, masyarakat lokal kini dapat mengakses sistem tenaga surya dengan lebih terjangkau. Selain itu, proyek PLTA Mohmand yang dibangun perusahaan China di Pakistan diproyeksikan mampu menghasilkan 2,86 miliar kWh listrik per tahun dan menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja lokal.
Sementara itu, di benua Afrika, China menghadapi tantangan geografis yang jauh lebih berat. Di wilayah dengan medan sulit dan jaringan listrik yang terbatas, teknologi China hadir melalui sistem tenaga surya mandiri yang dilengkapi penyimpanan energi. Di Kenya, misalnya, peralatan tenaga surya mulai menggantikan generator diesel yang mahal dan polutif. Teknologi ini telah menyentuh komunitas penggembala, desa terpencil, hingga kamp pengungsi. Dampaknya sangat luas, mulai dari mendukung kegiatan belajar di sekolah pedesaan hingga penggunaan pompa irigasi tenaga surya yang mampu meningkatkan hasil panen petani hingga 30 persen.




