Jakarta, 28 November 2023 – Amartha, perusahaan fintech peer-to-peer (P2P) lending, telah menerapkan teknologi machine learning untuk sistem penilaian kreditnya sejak tahun 2010. Langkah ini terbilang lebih maju dibandingkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang saat ini tengah mengembangkan Innovative Credit Scoring (ICS) dengan metode serupa.
"Kami memiliki engine credit scoring yang mampu menganalisis calon peminjam Amartha dengan lebih dari 90 indikator," ungkap Chief Finance Officer Amartha, Ramdhan Anggakaradibrata, dalam jumpa pers di Jakarta.

Sistem tersebut memproses data melalui kecerdasan buatan (AI), menghasilkan skor risiko kredit dengan klasifikasi A hingga E. Calon pemberi pinjaman dapat memilih peminjam berdasarkan tingkat risiko yang diinginkan. Sistem ini mampu mengolah 10.000 hingga 15.000 log per hari, atau sekitar 150.000 log per bulan, menghasilkan skor kredit real-time.
"Ini merupakan sistem yang masif dan menjangkau peminjam di seluruh Indonesia, menjadi pembeda utama Amartha di pasar," tegas Ramdhan.
Meskipun memanfaatkan teknologi canggih, Amartha tetap melibatkan tenaga kerja lapangan untuk berinteraksi langsung dengan peminjam. Hal ini dilakukan untuk memverifikasi data dan memastikan akurasi informasi.
Sementara itu, OJK tengah mengembangkan ICS yang direncanakan rampung pada akhir 2024. ICS akan memanfaatkan data dari e-commerce, media sosial, dan AI untuk menilai risiko kredit. Kepala Eksekutif Pengawas IAKD OJK, Hasan Fawzi, menyatakan peraturan terkait ICS masih dalam tahap harmonisasi.
Ramdhan mengapresiasi inisiatif OJK, namun menekankan bahwa pendekatan ICS mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan model bisnis Amartha. Amartha fokus pada segmen ibu-ibu di pedesaan yang aksesnya terhadap e-commerce dan media sosial masih terbatas.
"Tidak semua peminjam Amartha memiliki akses e-commerce atau media sosial. Oleh karena itu, kami menggabungkan teknologi tinggi dengan sentuhan personal," jelas Ramdhan.




