Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai sumber daya minyak Iran, bahkan mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Pernyataan ini menuai beragam reaksi, termasuk pertanyaan dari sejumlah pihak di AS.
"Sejujurnya, hal yang paling saya sukai adalah mengambil minyak di Iran," ujar Trump seperti dikutip dari CNBC, Senin (30/3/2026). Ia bahkan menyamakan ambisinya ini dengan upaya AS sebelumnya untuk mengendalikan industri minyak Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Trump menambahkan bahwa AS memiliki berbagai opsi, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg dalam jangka panjang. "Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan. Itu juga berarti kita harus berada di sana untuk sementara waktu," katanya.
Pulau Kharg memegang peranan krusial bagi Iran, menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut. Sebagai informasi, Iran sangat bergantung pada sektor minyak sebagai penopang utama ekonominya.
Pulau yang terletak sekitar 25 kilometer dari pantai Iran di Teluk Persia ini dikenal sebagai "Pulau Terlarang" karena pengawasan militer yang ketat. Jutaan barel minyak mentah dari ladang-ladang utama Iran dialirkan melalui pipa ke pulau ini setiap harinya.
Menurut Reuters, Iran menyumbang sekitar 4,5% pasokan minyak global, dengan produksi harian mencapai 3,3 juta barel minyak mentah serta 1,3 juta barel kondensat dan cairan lainnya.
Lahatsatu mencatat, Pulau Kharg telah lama menjadi tulang punggung ekonomi Iran. Dokumen CIA pada tahun 1984 menyebut fasilitas di sana sebagai yang paling vital dalam sistem perminyakan Iran dan operasionalnya sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi negara.
Bahkan, pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, pernah menyatakan bahwa penghancuran terminal di Pulau Kharg dapat melumpuhkan ekonomi Iran dan menjatuhkan rezim yang berkuasa.



