lahatsatu.com – Kementerian Keuangan Kemenkeu baru-baru ini merilis data mengejutkan terkait penarikan utang baru pemerintah. Hingga akhir Agustus 2026 total pinjaman yang berhasil ditarik mencapai angka fantastis Rp 506 triliun. Pencapaian ini sudah menyentuh 60,8 persen dari total target pembiayaan utang dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 832,2 triliun.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya tercatat Rp 464,6 triliun. Peningkatan ini menarik perhatian publik mengenai sumber dan pengelolaan utang negara.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBNKita pada Jumat 18 September 2026 di kantornya Jakarta menjelaskan secara rinci asal muasal pembiayaan utang tersebut. Menurut Suahasil mayoritas pendanaan utang ini didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara SBN. Nilainya mencapai Rp 527,4 triliun atau sekitar 66 persen dari target APBN sebesar Rp 799,5 triliun.
Uniknya pembiayaan melalui jalur pinjaman justru menunjukkan angka negatif yakni Rp 21,4 triliun. Angka ini setara 65,5 persen dari pagu pembiayaan pinjaman dalam APBN 2026 yang sebesar Rp 32,7 triliun. Kondisi negatif ini mengindikasikan bahwa pemerintah lebih banyak melakukan pelunasan pinjaman daripada penarikan pinjaman baru.
Suahasil menegaskan bahwa pengelolaan utang ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan terukur. Ia memastikan seluruh proses berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan dalam APBN. "Dengan data hingga Agustus ini kami pastikan semuanya on track sesuai rencana APBN. Kami akan terus memantau dan melaporkannya secara berkala" jelas Suahasil. Pernyataan ini bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa kondisi keuangan negara tetap terkendali meskipun ada penarikan utang yang besar.




