Jakarta, Lahatsatu.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso meyakinkan publik bahwa penerapan tarif impor sebesar 19% oleh Amerika Serikat (AS) terhadap produk Indonesia tidak akan menghambat kinerja ekspor nasional. Sebaliknya, Mendag optimis ekspor Indonesia justru berpeluang untuk tumbuh.
Keyakinan ini didasari oleh fakta bahwa AS juga memberlakukan tarif 0% untuk sejumlah besar komoditas asal Indonesia. Menurut perjanjian dagang antara kedua negara, terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia yang kini menikmati fasilitas bebas bea masuk ke pasar AS.

"Surplus perdagangan terbesar kita itu ke Amerika, nomor dua ke India. Jadi, tidak ada masalah," tegas Budi di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (24/2/2026). "Dari perjanjian itu, kita banyak mendapatkan yang 0%. Seharusnya justru malah meningkat. Memang harapan kita ingin meningkatkan ekspor."
Mendag juga membantah kekhawatiran mengenai potensi ketidakseimbangan neraca dagang akibat perjanjian dengan AS. Ia menjelaskan bahwa komoditas yang diimpor dari AS sejalan dengan kebutuhan dalam negeri.
"Barang-barang yang kita impor itu, barang-barang yang memang kita butuhkan," jelasnya.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump telah menandatangani kesepakatan dagang terkait tarif resiprokal (Agreements on Reciprocal Trade/ART). Penandatanganan dilakukan di sela-sela kegiatan Board of Peace (BoP) di Washington D.C, AS, pada Kamis (19/2) pagi waktu setempat.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menjelaskan bahwa setelah penandatanganan di tingkat kepala negara, pembahasan dokumen teknis dan lampiran ART dilanjutkan di kantor United States Trade Representative (USTR).
Bersamaan dengan penandatanganan perjanjian dagang tersebut, Indonesia dan AS sepakat membentuk Council of Trade and Investment. Forum ini akan menjadi wadah untuk membahas isu-isu terkait perdagangan, investasi, dan keseimbangan neraca dagang antara kedua negara.
"Sehingga ini menjadi forum ekonomi kedua negara dan ini hasil daripada agreement of reciprocal trade sehingga seluruh persoalan investasi dan persoalan perdagangan antara Indonesia dan Amerika nanti akan dibahas dulu di dalam Council of Trade," jelas Airlangga.




