Jakarta, Lahatsatu.com – Serangan yang diduga dilakukan oleh Iran telah menyebabkan kerugian besar bagi Arab Saudi. Aliran minyak melalui pipa East-West, yang merupakan jalur vital ekspor minyak negara tersebut, terpaksa dikurangi hingga 700.000 barel per hari akibat kerusakan stasiun pompa.
Pipa strategis ini, yang membentang menuju Laut Merah, berfungsi mengalirkan minyak dari fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia ke terminal ekspor Yanbu di Laut Merah. Dengan kapasitas mencapai 7 juta barel per hari, pipa ini menjadi andalan Arab Saudi untuk ekspor minyak, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz.

Selain kerusakan pada pipa East-West, serangan terhadap fasilitas produksi di Manifa dan Khurais juga mengakibatkan penurunan produksi minyak Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari. Beberapa kilang minyak juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Kerusakan infrastruktur energi ini semakin memperparah gangguan pasokan minyak global, yang sebelumnya telah terpengaruh oleh serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Meskipun sempat ada kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan imbalan izin bagi kapal untuk melintas di Selat Hormuz, CEO Abu Dhabi National Oil Co., Sultan Ahmed Al Jaber, menyatakan bahwa jalur tersebut masih belum sepenuhnya terbuka.
Al Jaber menegaskan bahwa Iran masih memberlakukan izin bagi kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz. "Jadi mari kita tegaskan: Selat Hormuz tidak terbuka. Aksesnya dibatasi, diatur, dan dikendalikan," ujarnya melalui media sosial.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang menghubungkan produsen minyak di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, ke pasar global. Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Akibat gangguan di Selat Hormuz, produsen minyak di kawasan Teluk telah memangkas produksi sekitar 13 juta barel per hari.



