Karawang, Lahatsatu.com – PT Pupuk Indonesia (Persero) tengah berupaya keras untuk merevitalisasi pabrik-pabrik pupuknya yang sudah tua. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya operasional.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki tujuh proyek strategis yang akan dijalankan hingga tahun 2029. Salah satu fokus utama adalah revitalisasi pabrik pupuk yang sudah uzur.

"Efisiensi menjadi kunci utama. Kami berupaya menekan rasio konsumsi energi agar mendekati standar dunia, yaitu di kisaran 24 MMBTU (Million British Thermal Units) per ton," ujar Yehezkiel saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/11/2025).
Saat ini, Pupuk Indonesia sedang melakukan pembaruan pabrik tertua PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dan revitalisasi Pabrik Pusri IIIB. Proyek Pusri IIIB, yang dimulai pada Desember 2023, ditargetkan rampung dalam 40 bulan dan beroperasi penuh pada tahun 2027.
"Dengan revitalisasi ini, kami yakin kapasitas produksi akan meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri," tegas Yehezkiel. Selain revitalisasi, Pupuk Indonesia juga fokus pada hilirisasi, salah satunya dengan membangun pabrik soda ash Pupuk Kaltim.
Sebelumnya, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa perusahaan telah menyiapkan dana sebesar Rp 116 triliun untuk revitalisasi dan pembangunan pabrik pupuk di berbagai wilayah Indonesia.
"Revitalisasi ini sangat penting karena banyak pabrik yang sudah tua. Dengan revitalisasi, operasional pabrik akan lebih efisien, penggunaan gas lebih hemat, dan emisi berkurang. Hal ini juga akan berdampak positif pada biaya subsidi," jelas Rahmad.
Rahmad mencontohkan beberapa pabrik pupuk yang sudah beroperasi sejak lama, seperti PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) yang berdiri sejak 1959. Selain merevitalisasi pabrik yang ada, Pupuk Indonesia juga berencana membangun pabrik baru di Fakfak, Papua Barat.




