MRT Punya Jurus Jitu Bikin Jakarta Hidup Kembali

lahatsatu.com – Gemuruh aktivitas tak pernah berhenti di Jakarta. Dari langkah tergesa pekerja pagi hingga riuhnya malam kuliner dan hiburan, Ibu Kota seolah tak pernah

Agus sujarwo

MRT Punya Jurus Jitu Bikin Jakarta Hidup Kembali

lahatsatu.com – Gemuruh aktivitas tak pernah berhenti di Jakarta. Dari langkah tergesa pekerja pagi hingga riuhnya malam kuliner dan hiburan, Ibu Kota seolah tak pernah tidur. Namun, di balik keramaian gedung-gedung pencakar langit dan padatnya manusia, masih banyak sudut yang belum sepenuhnya "hidup". Ada potensi besar yang tersembunyi, menunggu untuk diubah menjadi magnet yang menarik, bukan sekadar jalur lintasan.

Inilah misi yang diemban MRT Jakarta: menghidupkan kembali kawasan-kawasan vital melalui strategi "placemaking". Konsep ini melampaui pembangunan fisik semata. Ia berfokus pada penciptaan ruang yang memiliki jiwa, identitas, dan mampu mengundang orang untuk singgah, berinteraksi, serta merasakan keterikatan emosional.

MRT Punya Jurus Jitu Bikin Jakarta Hidup Kembali
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Ini adalah upaya bagaimana sebuah kawasan dapat dihidupkan kembali, tidak hanya dari sisi bisnis dan aktivitas, tetapi juga untuk mendukung kegiatan masyarakat perkotaan," jelas R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo, Kepala Divisi Business Planning & Expansion MRT Jakarta, dalam acara MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta. Bagi MRT, stasiun bukan hanya titik pemberhentian, melainkan gerbang menuju sebuah pengalaman.

Blok M: Dari Transit Menjadi Destinasi Urban

Salah satu bukti nyata keberhasilan strategi ini terlihat di Blok M. Kawasan yang dulunya dikenal sebagai terminal dan pusat perbelanjaan ini kini bertransformasi menjadi "Negara Blok M", sebuah pusat gaya hidup dan kuliner yang tak pernah sepi. Identitasnya diperkuat sebagai hub anak muda urban, sekaligus membangkitkan nostalgia bagi generasi sebelumnya.

Blok M kini menjadi panggung bagi beragam komunitas dan acara yang terus berinovasi. Di media sosial, citranya melesat sebagai lokasi kuliner viral, pusat skena, hingga tempat konser yang selalu ramai. "Prinsip utamanya adalah aktivitas yang terus hidup, tidak pernah mati. Konsepnya memang dirancang agar vibrant, selalu berinovasi," tambah Samuel.

Pendekatan placemaking ini, menurut Samuel, berjalan seiring dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Namun, placemaking lebih dalam, mencakup kenyamanan, citra, interaksi sosial, dan aktivitas yang membuat pengunjung datang bukan hanya untuk mencari makan, melainkan juga berjalan kaki, berburu kuliner, bertemu teman, atau sekadar menikmati suasana Ibu Kota.

Ekonomi Berputar Lebih Kencang

Keberhasilan sebuah kawasan tidak hanya diukur dari keramaian, tetapi juga dari dampak ekonominya. Ketika sebuah acara besar digelar, efek domino terjadi. Pengunjung tidak hanya membelanjakan uang di lokasi acara, tetapi juga di restoran sekitar, toko-toko, bahkan hotel jika mereka datang dari luar kota.

"Ada penelitian dari Stanford University yang menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi kreatif atau MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) bisa menghasilkan multiplier effect hingga 4-5 kali lipat dari nilai ekonomi kegiatan itu sendiri," ungkap Samuel. Artinya, jika sebuah acara bernilai Rp 10 miliar, dampak ekonominya bisa mencapai Rp 40-50 miliar. Skala ini bisa lebih besar, mencapai tujuh hingga delapan kali lipat, untuk acara berskala internasional seperti konser musik di Gelora Bung Karno.

Kota Tua: Menghidupkan Sejarah dengan Sentuhan Modern

Jika Blok M berkembang dengan denyut anak muda, Kota Tua memiliki tantangan unik: menghidupkan kembali jiwanya yang kaya sejarah tanpa menghilangkan identitas heritage-nya. "Area Kota Tua akan kami revitalisasi dengan mempertahankan identitas heritage-nya. Jadi, nuansa Chinatown dan Little Amsterdam-nya tidak hilang, tapi areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi ritel, komunitas, dan lainnya," jelas Samuel.

Bahkan, sentuhan modern dan futuristik akan dihadirkan, mengingat kawasan Glodok yang berdekatan dikenal sebagai pusat elektronik. Dua karakter berbeda ini akan disatukan secara harmonis. Revitalisasi Kota Tua ini akan berjalan paralel dengan pembangunan jalur MRT menuju kawasan tersebut, yang ditargetkan beroperasi pada 2029.

Saat ini, fokus MRT Jakarta masih pada penyelesaian Stasiun Thamrin dan Monas yang direncanakan beroperasi Desember 2027. Dengan demikian, geliat baru Kota Tua masih menanti perjalanan panjang, bukan hanya untuk hadirnya jalur MRT, tetapi juga untuk menemukan cara agar ruang bersejarah itu kembali menjadi denyut nadi kehidupan Jakarta.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar