lahatsatu.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait persepsi publik yang kerap melabelinya sebagai sosok yang angkuh atau "omong gede" di awal masa jabatannya. Purbaya menegaskan bahwa sikap tersebut bukanlah bentuk kesombongan, melainkan sebuah strategi terencana untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan masyarakat di tengah gejolak ekonomi.
Purbaya menjelaskan, saat ia pertama kali mengemban tugas sebagai Menteri Keuangan, Indonesia baru saja dilanda gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang stabilitas. Dalam situasi genting tersebut, prioritas utamanya adalah memulihkan keyakinan publik secepat mungkin. Ia lantas menerapkan sebuah konsep yang dipelajarinya, yakni teori makroekonomi tentang ekspektasi yang terpenuhi dengan sendirinya atau self-fulfilling prophecies. Intinya, dengan membentuk harapan dan pandangan positif, perekonomian cenderung bergerak ke arah yang diharapkan.

Namun, implementasi teori tersebut di lapangan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Purbaya mengakui, untuk mencapai tujuan itu dalam waktu singkat, ia terpaksa harus berbicara dengan nada yang sangat percaya diri, yang kemudian diinterpretasikan sebagian pihak sebagai kesombongan. "Itu bukan angkuh, tapi memang sebuah desain untuk membentuk ekspektasi ke depan agar bergerak ke arah yang lebih positif," ungkap mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan ini saat ditemui di kawasan Sunter, Jakarta Barat.
Menurut Purbaya, jika pasar dan masyarakat memiliki ekspektasi yang baik terhadap masa depan ekonomi, maka roda perekonomian akan berputar lebih cepat. Investor tidak akan ragu menanamkan modal, masyarakat berani berbelanja, dan perusahaan berani berekspansi. Sebaliknya, jika semua pihak diliputi kekhawatiran akan resesi, maka ketakutan itu bisa menjadi kenyataan karena investor menahan diri, masyarakat enggan berbelanja, dan perusahaan menunda ekspansi.
Berbagai langkah telah ditempuh untuk membangun kembali optimisme ini. Salah satunya adalah kebijakan pemindahan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank milik negara pada September tahun lalu. Meskipun demikian, Purbaya mengakui bahwa tantangan terus berdatangan, termasuk setelah adanya pengumuman dari lembaga pemeringkat global seperti MSCI, Fitch Ratings, dan Moody’s, yang menuntut respons strategis lanjutan dari pemerintah.




