lahatsatu.com – PT Bukit Asam Tbk PTBA tengah menghadapi tantangan serius terkait kewajiban pasokan batu bara untuk pasar domestik atau Domestic Market Obligation DMO Beban DMO yang dinilai terlalu besar ini berpotensi mengikis laba perusahaan hingga belasan triliun rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengungkapkan bahwa sejak tahun 2018 hingga 2025 potensi penurunan keuntungan akibat pemenuhan DMO yang melampaui ketentuan mencapai sekitar Rp 145 triliun. Angka ini muncul karena realisasi DMO PTBA selalu jauh di atas batas minimal yang ditetapkan pemerintah yakni 25 persen dari total produksi. Bahkan pada tahun 2025 porsi DMO PTBA diprediksi menembus angka 54 persen lebih dari separuh penjualan batu bara dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.

Menurut Bambang isu DMO ini menjadi sorotan utama PTBA setiap tahunnya. Ia menyoroti adanya ketidakpatuhan dari beberapa perusahaan batu bara lain dalam memenuhi kewajiban DMO mereka Hal ini secara tidak langsung menjadikan PTBA sebagai tumpuan utama untuk menjamin ketersediaan pasokan batu bara di pasar domestik.
Merespons kondisi ini PTBA mendesak agar beban pemenuhan DMO dapat didistribusikan secara lebih adil dan merata kepada seluruh pelaku industri batu bara. Harapannya tanggung jawab ini tidak hanya dipikul oleh segelintir perusahaan saja melainkan menjadi komitmen bersama.
Di tengah tekanan DMO yang tinggi kinerja PTBA pada semester I 2026 menunjukkan dinamika menarik. Penjualan batu bara untuk pasar domestik masih mendominasi dengan porsi 51 persen yang diserap oleh sektor-sektor vital seperti PLN industri pupuk dan semen Sementara 49 persen sisanya diekspor ke berbagai negara seperti Vietnam Bangladesh Kamboja dan India.
Meski sempat mengalami penurunan produksi akibat intensitas hujan tinggi pada Januari hingga Maret yang mengganggu aktivitas pengangkutan dan penjualan PTBA berhasil mencatat peningkatan laba bersih yang fantastis. Laba bersih perusahaan melonjak sekitar 218 persen dari Rp 830 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 265 triliun pada semester I 2026. Kenaikan signifikan ini menunjukkan resiliensi PTBA di tengah berbagai tantangan operasional dan regulasi.




