Kemnaker Gandeng TikTok Lahirkan Talenta Digital Kreatif

Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berkolaborasi dengan platform media sosial populer, TikTok, meluncurkan program pelatihan vokasi bertajuk "Belajar Implementasi & Skill Adaptif Bareng TikTok (BISA)".

Agus sujarwo

Kemnaker Gandeng TikTok Lahirkan Talenta Digital Kreatif

Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berkolaborasi dengan platform media sosial populer, TikTok, meluncurkan program pelatihan vokasi bertajuk "Belajar Implementasi & Skill Adaptif Bareng TikTok (BISA)". Inisiatif ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan keterampilan di era digital dan mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menekankan bahwa lanskap pekerjaan terus berubah dengan cepat. Dalam satu dekade mendatang, diperkirakan sekitar separuh dari proses bisnis yang ada saat ini akan usang dan digantikan oleh model-model baru. Hal ini memunculkan berbagai profesi baru yang bahkan belum terpikirkan beberapa tahun lalu.

Kemnaker Gandeng TikTok Lahirkan Talenta Digital Kreatif
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Profesi seperti content creator, afiliator, reseller, hingga host live commerce kini semakin diminati. Namun, keterampilan ini belum tentu diajarkan dalam kurikulum formal," ujar Yassierli di Gedung Vokasi Kemnaker, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026). Oleh karena itu, pelatihan vokasi menjadi solusi strategis untuk membekali masyarakat dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja digital.

Pemerintah terus mendorong penguatan pelatihan vokasi untuk merespons dinamika dunia kerja, termasuk di sektor digital commerce. Kerja sama dengan platform seperti TikTok dan Shopee diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja baru bagi masyarakat.

Saat ini, program pelatihan vokasi nasional menargetkan 60.000-70.000 lulusan per tahun. Namun, pemerintah berambisi untuk meningkatkan jumlah ini secara signifikan hingga mencapai 500.000 orang per tahun melalui kolaborasi dengan berbagai platform.

Yassierli menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini didominasi oleh pekerjaan yang fleksibel dan cenderung informal. Meskipun tidak selalu dalam hubungan kerja formal, pekerjaan ini dapat menjadi solusi sementara bagi masyarakat sambil mencari pekerjaan tetap yang lebih stabil.

Lebih lanjut, Yassierli menegaskan bahwa pelatihan vokasi bukanlah tujuan akhir. Pemerintah tetap berkomitmen untuk menciptakan lapangan kerja formal yang layak melalui berbagai program strategis, seperti ketahanan pangan dan hilirisasi industri, agar penyerapan tenaga kerja bisa lebih besar dan berkelanjutan.

"Apakah ini menjadi tujuan utama kita? Tentu tidak. Kami tetap berupaya menciptakan pekerjaan yang layak dan penghidupan yang layak, sesuai dengan amanat konstitusi. Program-program seperti ketahanan pangan dan hilirisasi industri adalah solusi untuk menciptakan pekerjaan yang lebih masif di masa depan. Pelatihan vokasi ini bisa menjadi pilihan sementara," pungkas Yassierli.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar