Indonesia Blokir Temu: Perlindungan UMKM atau Hambatan Pertumbuhan Ekonomi?

Langkah Indonesia melarang platform e-commerce asal China, Temu, menarik perhatian media internasional. The Guardian, misalnya, melaporkan kebijakan ini sebagai upaya melindungi Usaha Mikro, Kecil, dan

Agus sujarwo

Indonesia Blokir Temu: Perlindungan UMKM atau Hambatan Pertumbuhan Ekonomi?

Langkah Indonesia melarang platform e-commerce asal China, Temu, menarik perhatian media internasional. The Guardian, misalnya, melaporkan kebijakan ini sebagai upaya melindungi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Pemerintah Indonesia, menurut laporan tersebut, meminta Temu ditarik dari App Store pada Oktober lalu.

Kekhawatiran pemerintah berpusat pada model bisnis Temu yang menghubungkan konsumen langsung dengan produsen tanpa perantara. Hal ini memungkinkan Temu menawarkan harga jauh lebih murah, sehingga dikhawatirkan akan mematikan daya saing UMKM Indonesia. Situasi serupa juga terjadi di Vietnam, di mana pemerintah mengancam akan memblokir Temu dan Shein, platform belanja online China lainnya, karena belum mengantongi izin usaha.

Indonesia Blokir Temu: Perlindungan UMKM atau Hambatan Pertumbuhan Ekonomi?
Gambar Istimewa : cdn1.katadata.co.id

Meskipun Temu telah beroperasi di Vietnam sejak Oktober, operasionalnya masih terbatas. Bahasa yang tersedia hanya Inggris, dan pembayaran hanya bisa dilakukan melalui kartu kredit, bukan dompet digital lokal. Laporan dari Momentum Works menunjukkan keterbatasan logistik Temu di Vietnam, hanya bermitra dengan dua perusahaan kurir, Ninja Van dan Best Express. Meskipun demikian, pengiriman di Vietnam relatif cepat (4-7 hari) dibandingkan negara lain seperti Malaysia dan Filipina (5-20 hari), dikarenakan kedekatan geografis dengan Guangzhou, China.

Simon Torring, co-founder perusahaan riset pasar Cube, mengungkapkan banjir produk China telah merusak produsen dan penjual lokal. Kecepatan, kualitas, dan harga produk China yang kompetitif membuat produsen lokal kesulitan bersaing. Ia bahkan menyebut Temu telah menjadi "bahan tertawaan bagi setiap regulator," yang memicu kekhawatiran pemerintah akan perlunya revisi aturan impor lintas batas.

Di sisi lain, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, merupakan pasar yang sangat menarik bagi Temu. Bain & Co mencatat penjualan e-commerce di kawasan ini mencapai US$ 160 miliar pada 2024, menunjukkan potensi pertumbuhan yang besar di kelas menengah. Jianggan Li, CEO Momentum Works, menjelaskan ekspansi Temu ke luar negeri didorong oleh perlambatan ekonomi China dan kapasitas produksi berlebih di pabrik-pabrik China. Hal ini memaksa Temu untuk meningkatkan volume penjualan dengan biaya rendah demi mempertahankan pertumbuhan.

Perdebatan ini menimbulkan pertanyaan: apakah langkah Indonesia melindungi UMKM atau justru menghambat potensi pertumbuhan ekonomi digital? Dampak jangka panjang dari pelarangan Temu terhadap pasar e-commerce Indonesia dan hubungan bilateral dengan China masih perlu dikaji lebih lanjut.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1