India dalam Bahaya: Blokade Selat Hormuz oleh AS Ancam Pasokan Energi

Jakarta, Lahatsatu.com – India menghadapi tantangan berat setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade di Selat Hormuz. Kebijakan ini mengancam pasokan energi India dan memperburuk ketegangan

Agus sujarwo

India dalam Bahaya: Blokade Selat Hormuz oleh AS Ancam Pasokan Energi

Jakarta, Lahatsatu.com – India menghadapi tantangan berat setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade di Selat Hormuz. Kebijakan ini mengancam pasokan energi India dan memperburuk ketegangan geopolitik yang sudah ada.

Blokade yang diumumkan Presiden AS Donald Trump setelah gagalnya perundingan damai dengan Iran di Pakistan, memberikan pukulan telak bagi India. Negara ini baru saja memulai impor minyak dari Iran setelah tujuh tahun absen, untuk memenuhi kebutuhan energi di tengah konflik global.

India dalam Bahaya: Blokade Selat Hormuz oleh AS Ancam Pasokan Energi
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Analis dari XAnalysts, Mukesh Sahdev, menilai India berada dalam tekanan ganda. Selain kehilangan pasokan dari Iran akibat blokade, akses India ke minyak Rusia juga terhenti setelah pengecualian yang diberikan AS berakhir pada 11 April lalu.

Sebagai negara importir minyak terbesar ketiga di dunia, India mengimpor 85% kebutuhan minyaknya atau sekitar 5,5 juta barel per hari. "India kehilangan sekitar 3 juta barel minyak mentah per hari yang sebelumnya melewati Selat Hormuz. Hal ini memaksa perusahaan kilang minyak mencari pasokan dari negara lain, terutama Rusia," kata Sahdev seperti dikutip dari CNBC Internasional.

Sahdev memperingatkan bahwa India berada di ambang krisis jika gangguan pasokan berlanjut. Cadangan minyak India hanya cukup untuk sekitar 30 hari jika terjadi guncangan pasokan yang berkepanjangan, jauh berbeda dengan China yang memiliki cadangan untuk 300 hari.

Dampak konflik Timur Tengah sudah terasa pada indikator makroekonomi India. Purchasing Managers’ Index (PMI) dari HSBC menunjukkan aktivitas sektor swasta India melambat ke level terendah sejak Oktober 2022 akibat melemahnya permintaan domestik. Perusahaan-perusahaan yang disurvei menyebut konflik Timur Tengah, kondisi pasar yang tidak stabil, dan tekanan inflasi sebagai faktor penghambat pertumbuhan.

Kementerian Keuangan India juga mengeluarkan peringatan bahwa target pertumbuhan ekonomi 7,0%-7,4% terancam meleset akibat lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok.

Situasi ini menempatkan India dalam posisi sulit antara menjaga ekonomi dan ketahanan energi dengan mempertahankan hubungan baik dengan AS. Langkah-langkah AS semakin mempersempit ruang gerak India.

Tahun lalu, AS mengenakan tarif tambahan pada ekspor India dan menuduh India mendanai perang Rusia di Ukraina melalui impor minyak Rusia dengan harga diskon. India kemudian memangkas pembelian minyak Rusia dan meningkatkan impor dari Timur Tengah, namun strategi ini berantakan setelah pecahnya perang di kawasan tersebut.

"Saya merasa kasihan pada pemerintah India. Mereka seolah didikte oleh AS tentang apakah boleh atau tidak membeli energi dari Rusia atau Iran," ujar Pimpinan Vogel Group, Samir Kapadia.

Data dari Rystad Energy menunjukkan India membeli minyak mentah Rusia sebesar 1,5 juta barel per hari setelah AS memberikan keringanan khusus selama 30 hari.

Meskipun situasi global sedang memanas, Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India mencoba meredam kepanikan publik dengan menyatakan bahwa stok minyak di dalam negeri masih terkendali dan seluruh kilang beroperasi pada kapasitas tinggi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar