Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa Generative AI (GenAI) telah memberikan dampak positif bagi para pekerja di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Jobstreet bersama BCG Consulting menemukan bahwa separuh pekerja Indonesia merasakan manfaat dari penggunaan teknologi GenAI.
"Manfaat terbesar GenAI bagi pekerja Indonesia adalah untuk membantu efektivitas kerja," ujar Country Head of Marketing Jobstreet, Sawitri. Sebanyak 53% responden menyatakan bahwa GenAI membantu mereka menghemat waktu, sementara 47% lainnya merasakan GenAI membantu mereka menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan lebih efisien.

GenAI sendiri merupakan teknologi AI yang dapat menghasilkan konten baru seperti teks, gambar, audio, dan video dalam waktu singkat. Contohnya, GenAI dapat mengubah teks menjadi gambar, gambar menjadi lagu, atau video menjadi teks.
Survei ini juga menunjukkan bahwa hampir setengah dari pekerja Indonesia yang aktif memodifikasi output GenAI menunjukkan tingkat kemandirian dan kepercayaan diri yang tinggi dalam menggunakan teknologi ini. "Mereka tidak hanya pasif menerima output AI, tetapi juga proaktif dalam mengolah dan menyempurnakannya," tambah Sawitri.
Data tersebut diperoleh dari laporan eksklusif Jobseeker dan BCG bertajuk Decoding Global Talent 2024 dengan tema Perubahan Cara Kerja di Era GenAI. Survei ini dilakukan secara global, melibatkan lebih dari 150.735 responden dari 180 negara, termasuk 19.154 tenaga kerja Indonesia. Laporan ini akan tersedia untuk publik pada November 2024 mendatang.
Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 52% pekerja Indonesia telah mencoba teknologi GenAI sejak rilis pada tahun 2023. Dari angka tersebut, 38% pekerja menggunakan GenAI secara teratur setiap bulan.
Pekerja Indonesia paling banyak menggunakan GenAI untuk belajar dan riset (41%), diikuti oleh tugas administratif (37%), dan tugas kreatif (31%). Secara personal, mereka memanfaatkan GenAI untuk pengembangan keterampilan (50%), memperoleh pengetahuan dan fakta umum (37%), dan menerjemahkan bahasa (33%).
Meskipun demikian, laporan Jobstreet juga mencatat bahwa ketidakpuasan pekerja Indonesia terkait GenAI adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memberikan masukan. Hal ini bisa menjadi faktor yang memperlambat adopsi GenAI di Indonesia, meskipun ketertarikan tinggi. Banyak pekerja yang menyebutkan bahwa mereka masih harus mencari tahu apa yang perlu mereka pelajari dan membutuhkan lebih banyak sumber daya keuangan untuk meningkatkan pengalaman penggunaan GenAI.
"Hal ini memberikan peluang bagi pebisnis atau pemerintah untuk memberikan pelatihan dan dukungan yang terarah," tulis laporan tersebut.




