lahatsatu.com – Kebingungan melanda masyarakat terkait perubahan drastis pada peringkat desil kesejahteraan mereka dalam Data Terpadu Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Banyak warga merasa status desilnya melonjak naik, padahal kondisi ekonomi mereka di lapangan masih jauh dari kata berkecukupan. Fenomena ini memicu pertanyaan besar tentang akurasi data yang menjadi landasan berbagai program bantuan sosial pemerintah.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama pergeseran data desil adalah masuknya sekitar 12 juta data baru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ke dalam DTSEN Volume 3. Data-data segar ini, yang belum sepenuhnya terverifikasi dan tervalidasi, menyebabkan lonjakan dan ketidakstabilan. Namun, Gus Ipul memastikan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) telah bergerak cepat melakukan koreksi melalui penerbitan DTSEN Volume 3.1.

Pemerintah, lanjut Gus Ipul, berkomitmen penuh untuk terus melakukan konsolidasi dan pembaruan DTSEN demi menjamin ketepatan data. Proses pengkinian ini melibatkan berbagai sumber, termasuk perbaikan data langsung di lapangan bersama pemerintah daerah. "Data ini telah distabilkan, dirapikan, diverifikasi, dan divalidasi. Insyaallah dalam satu hingga dua minggu ke depan, akurasi data akan semakin meningkat," ujar Gus Ipul dalam keterangan resminya.
Penting untuk digarisbawahi, perubahan peringkat desil tidak serta-merta berarti seseorang otomatis dicoret dari daftar penerima bantuan sosial. Penyaluran bantuan tetap menanti penetapan resmi pada periode penyaluran yang telah ditentukan. "Meskipun ada lonjakan data, bantuan tidak langsung hilang, karena proses penetapan masih berjalan. Khusus untuk PBI (Penerima Bantuan Iuran) malah dilakukan setiap bulan," tegas Gus Ipul.
Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan




