lahatsatu.com – Kabar baik datang dari pasar valuta asing pagi ini, di mana nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami tren pelemahan terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam tersebut menunjukkan pergerakan yang cenderung melandai dan kini berada di kisaran level Rp 17.900-an.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Bloomberg pada Jumat (2/10/2026), dolar AS tercatat berada di posisi Rp 17.945. Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, angka ini menunjukkan penurunan sebesar 21 poin atau setara dengan pelemahan sekitar 0,12 persen. Penurunan ini memberikan sedikit ruang napas bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih fluktuatif.

Meskipun menunjukkan performa yang positif terhadap rupiah, kondisi dolar AS di pasar internasional sebenarnya menunjukkan pergerakan yang sangat bervariasi atau beragam. Mata uang hijau tersebut tidak mengalami tren yang seragam terhadap seluruh mata uang utama dunia lainnya. Di satu sisi, dolar AS justru menunjukkan dominasi dan penguatan terhadap beberapa mata uang penting, namun di sisi lain, ia juga harus menyerah di hadapan mata uang Asia lainnya.
Secara lebih mendalam, dolar AS tercatat berhasil menguat terhadap euro, dolar Singapura, dolar Australia, hingga pound sterling. Dalam rinciannya, mata uang Amerika ini naik tipis sebesar 0,02 persen jika disandingkan dengan dolar Singapura. Kekuatan dolar AS juga terlihat lebih signifikan saat berhadapan dengan euro, di mana terjadi penguatan sebesar 0,3 persen.
Tak hanya itu, dolar AS juga menunjukkan taringnya terhadap dolar Australia dengan kenaikan sebesar 0,11 persen. Sementara itu, terhadap pound sterling milik Inggris, dolar AS hanya mengalami kenaikan tipis di angka 0,01 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pelemahan terhadap rupiah terjadi, posisi dolar AS masih cukup tangguh di hadapan sebagian besar mata uang Barat dan beberapa mata uang regional lainnya.
Namun, tren positif dolar AS tidak berlaku saat berhadapan dengan mata uang dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Timur. Dolar AS justru mengalami tekanan dan melemah ketika disandingkan dengan yen Jepang serta yuan China. Tercatat, dolar AS merosot 0,09 persen terhadap yen Jepang dan mengalami penurunan tipis sebesar 0,02 persen terhadap yuan China.
Kondisi pasar yang campur aduk ini mencerminkan ketidakpastian sentimen ekonomi global yang sedang berlangsung. Para pelaku pasar kini tengah memantau berbagai indikator ekonomi, baik dari Amerika Serikat maupun dari kawasan Asia, untuk melihat arah pergerakan mata uang ke depan. Pelemahan dolar terhadap rupiah pagi ini menjadi salah satu poin penting yang patut dicermati oleh para investor dan pelaku bisnis yang memiliki eksposur terhadap transaksi valuta asing.




